Politik

Washington Tak Ingin Kehilangan Hubungan dengan Indonesia

Jakarta, Maret.id — Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan pejabat diplomatik Amerika Serikat di kediamannya di Hambalang, Bogor, pada Sabtu, 5 September 2026, menarik perhatian di tengah ketegangan geopolitik global yang semakin mendalam.

Pertemuan ini berlangsung satu hari setelah Prabowo kembali dari Rusia, di mana ia menghadiri Eastern Economic Forum ke-11 di Vladivostok sebagai tamu kehormatan utama atas undangan Presiden Vladimir Putin.

Presiden Prabowo menerima Duta Besar AS untuk ASEAN, Kevin Kim, dan Kuasa Usaha ad interim Misi AS untuk ASEAN, Joy M. Sakurai. Dalam pertemuan tersebut, Prabowo didampingi oleh Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan, “Pertemuan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat hubungan dan kemitraan strategis Indonesia-Amerika Serikat,” sambung Teddy.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai bahwa pertemuan tersebut memiliki dimensi geopolitik yang lebih luas jika dilihat dalam konteks kunjungan Prabowo ke Rusia. Ia mengungkapkan, “Waktu pertemuan ini penting untuk diperhatikan.”

Amir berpendapat bahwa pertemuan dengan Duta Besar AS tidak dapat dipisahkan dari kunjungan Prabowo ke Rusia. “Terlihat bahwa AS ingin Indonesia tidak condong ke Rusia,” kata Amir, dikutip pada Senin, 7 September 2026.

Prabowo juga menegaskan komitmen Indonesia untuk bekerja sama dengan semua negara. Di Vladivostok, ia menyatakan bahwa Indonesia memiliki politik luar negeri yang terbuka dan tidak menutup diri dari kekuatan global.

Dalam pertemuan dengan Putin pada 3 September 2026, kedua pemimpin menekankan pentingnya hubungan strategis antara Indonesia dan Rusia. Putin juga menyebutkan, “Intensitas komunikasi antara kami mencerminkan sifat strategis hubungan kedua negara.”

Menurut Amir, posisi Indonesia menunjukkan bahwa negara ini memainkan peran penting di tengah persaingan kekuatan besar. “Indonesia tidak dalam posisi harus memilih antara Washington atau Moskow,” imbuhnya.

Amir menjelaskan lebih lanjut bahwa Jakarta memiliki kepentingan untuk menjaga ruang manuver strategis sembari menjalin hubungan dengan berbagai kekuatan besar. “Pendekatan yang paling rasional adalah tidak masuk dalam blok tertentu,” jelasnya.

Ia menambahkan, posisi Indonesia sebagai negara besar di Asia Tenggara membuat setiap langkah Prabowo akan dipantau oleh negara-negara besar dalam konteks konfigurasi geopolitik kawasan.

Amerika Serikat, kata Amir, memiliki kepentingan strategis yang signifikan terhadap Indonesia dan Asia Tenggara. “Indonesia berada di jalur perdagangan internasional yang krusial dan dekat dengan kawasan Indo-Pasifik, arena utama persaingan kekuatan besar saat ini,” sambung Amir.

Dengan demikian, Washington berupaya memastikan Indonesia memiliki hubungan yang kuat dengan AS dan tidak terpengaruh terlalu jauh oleh Rusia atau China. “Jika Indonesia terlalu dekat dengan Rusia atau China, itu akan menjadi perhatian besar bagi Amerika Serikat,” tegas Amir.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button