Romy Soekarno Dorong AI Merah Putih untuk Kedaulatan Data Nasional

Jakarta, Maret.id — Anggota Komisi II DPR RI Romy Soekarno mendorong pengembangan gagasan “AI Merah Putih”. Hal ini dianggap penting dalam upaya menjaga kedaulatan data dan informasi nasional di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan.
Romy menegaskan pentingnya pemanfaatan teknologi yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila. “Pancasila harus menjadi kemudi moral dalam menghadapi perkembangan AI dan algoritma digital,” tegas Romy, yang merupakan politisi dari PDI Perjuangan.
Ia melanjutkan bahwa ideologi negara perlu berfungsi sebagai perisai untuk mencegah fragmentasi sosial dan polarisasi. “Teknologi menjawab ‘bagaimana,’ tetapi Pancasila harus menjawab ‘mengapa’ dan ‘untuk siapa’,” imbuhnya.
Pandangan ini disampaikan saat seminar web bertajuk Penguatan Ideologi Pancasila di Jakarta pada Kamis lalu. Romy berpendapat bahwa perkembangan teknologi tidak seharusnya menyebabkan nilai-nilai kebangsaan hanya berfungsi sebagai dokumen sejarah.
“Pancasila adalah pandangan hidup bangsa dan kekuatan pemersatu masyarakat Indonesia yang majemuk,” tuturnya. Ia kemudian menjelaskan penerapan lima sila Pancasila dalam dunia digital.
Nilai ketuhanan, misalnya, dapat diwujudkan melalui toleransi beragama. Sementara itu, nilai kemanusiaan harus tercermin dalam penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia, termasuk menghentikan praktik perundungan siber.
Nilai persatuan dan demokrasi juga harus diterapkan melalui dialog konstruktif. Romy menekankan pentingnya menghentikan penyebaran berita bohong yang dapat memecah belah masyarakat.
Dalam hal keadilan sosial, ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan AI harus dapat diakses oleh semua kalangan. “Jangan sampai digital divide menjadi bentuk baru ketimpangan sosial,” ucap Romy.
Ia meminta Kementerian Komunikasi dan Digital untuk mengambil peran dalam menciptakan ekosistem digital nasional yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga berkarakter bangsa. Gagasan “AI Merah Putih” dapat menjadi terobosan strategis untuk memperkuat kemampuan Indonesia dalam mengelola teknologi.
Romy juga menyerukan perubahan metode edukasi Pancasila untuk Generasi Z dan Generasi Alpha. “Pembelajaran nilai-nilai kebangsaan perlu meninggalkan pola doktrinasi yang kaku,” jelasnya.
Ia mendorong agar pendidikan Pancasila diarahkan pada pengalaman nyata. “Dari hafalan menjadi pengalaman, dari pengetahuan jadi perilaku, dari slogan menjadi nilai hidup,” pungkasnya.





