Politik

Poros Cikeas

Jakarta, Maret.id — Pengamat politik Nurul Fatta menyatakan bahwa hubungan politik antara poros Cikeas yang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan poros Solo yang diwakili Joko Widodo (Jokowi) tidak perlu dipahami dalam konteks permusuhan yang berlebihan.

Pernyataan tersebut merespons pidato Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengenai kekuasaan yang tidak dimiliki seseorang selamanya, yang dinilai beberapa pihak sebagai sindiran kepada Jokowi. “Kita tidak perlu terlalu memperberat permusuhan antara anak-anak Cikeas dan Solo,” ujar Fatta.

Ia menambahkan bahwa penafsiran tersebut mungkin muncul karena sangkaan bahwa trah politik Jokowi masih berpengaruh melalui Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Namun, ia menegaskan bahwa dinamika politik menuju 2029 masih sangat fluid.

“Kalaupun pidato AHY ditujukan kepada Jokowi, kita seharusnya tidak berlebihan dalam menginterpretasikan hubungan ini,” imbuh Fatta. Mengacu pada pemikiran filsuf Eric Hoffer, ia menyatakan bahwa hubungan politik dengan lawan tidak seharusnya dibangun dalam istilah cinta atau benci yang mutlak.

“Eric Hoffer bilang, we never love without reservation and never hate with all our being. Cinta dan benci ke lawan politik itu ada batasnya, jangan berlebihan,” tuturnya.

Fatta menilai sikap tersebut penting, mengingat peta politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 masih terbuka, dengan potensi koalisi dan pasangan calon yang dapat berubah seiring perkembangan waktu.

Termasuk di dalamnya kemungkinan AHY dan Gibran untuk bersaing sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden, meski saat ini skenario itu dinilai sulit. “Peta politik 2029 masih bisa saja berubah. Siapa tahu AHY dan Gibran menjadi sepasang Capres-Cawapres. Meski banyak yang menganggap itu mustahil,” kata Fatta.

Ia juga mengingatkan bahwa politik sulit diprediksi. “Karena itu, hubungan antara kelompok Cikeas dan Solo tidak seharusnya dianggap sebagai permusuhan permanen,” tegasnya.

“Dalam politik anak-anak Cikeas dan Solo, nasib politik mereka bergantung pada dua garis tangan. Pertama, garis tangan bapaknya, dan kedua, garis tangan Yang Maha Kuasa,” pungkas Fatta.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button