Politik

Buka Raker PP Bamusi, Hasto Kristiyanto Soroti Islam Revolusioner

Jakarta, Maret.id — Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menekankan bahwa Islam seharusnya tidak hanya menjadi agama ritual. Ia menegaskan bahwa Islam harus menjadi kekuatan yang membebaskan manusia dari penindasan dan dapat menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Hasto saat membuka Rapat Kerja Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia (PP Bamusi) di Aston Cilotoh, Puncak, Cianjur, Jawa Barat. Ia mengingatkan pentingnya pemikiran Bung Karno mengenai Islam yang membebaskan.

Menurut Hasto, gagasan Bung Karno menekankan bahwa Islam tidak mempertahankan struktur feodal. Sebaliknya, Islam harus berpihak kepada rakyat dan membebaskan mereka dari berbagai bentuk penindasan.

Hasto berharap Bamusi, sebagai organisasi sayap PDI Perjuangan di bidang keislaman, dapat berfungsi sebagai jembatan antara ideologi partai, Islam, Pancasila, dan perjuangan kerakyatan. “Spirit Baitul Muslimin Indonesia adalah menjadi jembatan strategis antara ideologi partai, Islam, Pancasila, dan kerakyatan untuk menolong kaum dhuafa,” kata Hasto.

Ia menambahkan bahwa ukuran kehadiran agama dalam kehidupan berbangsa tidak cukup hanya dilihat dari simbol-simbol dan kegiatan seremonial. Agama harus diuji dari kemampuannya dalam memecahkan persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.

Agama, tegas Hasto, harus berpihak kepada kehidupan. Oleh karena itu, kader Bamusi didorong untuk mengatasi isu-isu seperti kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan.

Hasto juga mengajak peserta rapat untuk mengingat kembali sejarah para nabi. Menurutnya, perjalanan para nabi dipenuhi dengan pengorbanan demi umat. Mereka tidak hidup untuk diri mereka sendiri, melainkan menghadapi risiko demi membebaskan manusia dari kesesatan dan penindasan.

Sebagai contoh, Hasto mengungkapkan kisah Nabi Ibrahim di Babilonia. Ibrahim muncul sebagai sosok yang mempertanyakan keyakinan yang mapan dan menolak sistem penyembahan berhala yang diterima masyarakat pada waktunya.

“Sejarah para nabi adalah sejarah pengorbanan untuk umat. Nabi Ibrahim berani melawan tirani Namrudz dan sistem berhala yang dianggap kebenaran oleh masyarakat pada zamannya,” tutur Hasto.

Dari kisah itu, Hasto mengajak kader Bamusi untuk tidak takut menghadapi ketidakadilan. Ia menekankan bahwa Islam harus memiliki keberanian moral untuk berdiri bersama mereka yang lemah.

Pesan ini juga menjadi tantangan bagi Bamusi dalam menyusun program kerja, yang tidak hanya terfokus pada kegiatan internal. Program kerja diharapkan bisa menyentuh langsung persoalan rakyat.

Hasto menjabarkan, program yang membantu kaum dhuafa, masyarakat miskin, dan memperkuat solidaritas sosial harus menjadi bagian penting dari kerja Bamusi. Dengan demikian, nilai-nilai Islam tidak hanya menjadi wacana, tetapi juga aksi nyata.

Rapat kerja PP Bamusi diharapkan menjadi momentum konsolidasi untuk memperkuat arah perjuangan tersebut. Bamusi diharapkan dapat menerjemahkan Islam, Pancasila, dan ideologi kerakyatan ke dalam program kerja sosial yang konkret.

Dengan demikian, Bamusi bukan hanya sekadar wadah aktivitas keislaman. Organisasi ini diharapkan mampu menjadi kekuatan pembebasan dan bersolidaritas dengan rakyat yang tertindas.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button