Golkar: Ambang Batas Parlemen 5 Persen Dinilai Ideal

Jakarta, Maret.id — Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa ambang batas parlemen sebesar 5 persen merupakan angka yang ideal.
Bahlil menyatakan bahwa besaran parliamentary threshold masih menjadi bagian dari komunikasi antara partai politik.
“Kalau parliamentary threshold dalam komunikasi kita dengan lintas partai, memang ada yang menginginkan ada 6, ada 7, ada 5, ada di bawah itu juga. Tapi mungkin angka ideal ya, angka ideal itu 5 cocok lah ya,” ujar Bahlil kepada awak media di Istana Merdeka, Jakarta.
Diskusi mengenai besaran ambang batas parlemen belakangan ini menjadi isu hangat di tengah pembahasan RUU Pemilu di DPR.
Partai-partai koalisi dilaporkan telah menyepakati angka 5 persen. Sebelumnya, Partai Gerindra telah menyatakan dukungannya terhadap ambang batas 5 persen dalam revisi Undang-Undang Pemilu.
Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Sugiono menyatakan bahwa partai lain seperti Golkar dan PKS juga menyetujui angka tersebut.
“Gerindra juga sepakat soal PT 5 persen. Seperti juga kemarin Golkar juga menyampaikan ya, PKS juga menyampaikan, dan saya kira itu yang kita sepakati,” kata Sugiono di kompleks parlemen.
Di sisi lain, Partai Amanat Nasional (PAN) menolak ambang batas di atas 4 persen karena khawatir banyak suara pemilih yang tidak terkonversi menjadi kursi.
Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi menegaskan bahwa sikap tersebut bukan disebabkan kekhawatiran PAN tidak lolos ke parlemen pada Pemilu 2029.
“PAN keberatan jika parliamentary threshold diatas empat persen. Sikap PAN bukan karena khawatir tidak lolos mendapatkan kursi DPR RI, karena sejak Pemilu 1999 sampai 2024 PAN terbukti selalu lolos ke Senayan,” tegasnya.





