Novel Bamukmin Serukan Nobar G30S/PKI dan Doa Bersama

Jakarta, Maret.id — Dalam sebuah pernyataan, Dai Mujahid 212 Novel Bamukmin mengajak masyarakat untuk menggelar nonton bareng film “Pengkhianatan G30S/PKI” serta melakukan doa bersama untuk mengenang para korban.
Novel menekankan pentingnya peringatan ini agar generasi muda memahami peristiwa sejarah yang berkaitan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). “Momentum 30 September 2026 ini jangan sampai terlewat untuk kita merenungi kebiadaban PKI yang telah membantai umat Islam di Indonesia mulai dari 1926, 1948, dan 1966,” kata Novel, Selasa malam, 29 September 2026.
Dia menegaskan bahwa masyarakat perlu belajar dari berbagai konflik politik dan pemberontakan yang terjadi. Pengalaman sejarah ini, menurutnya, harus menjadi peringatan agar bangsa Indonesia tidak menghadapi persoalan serupa di masa depan. “Kalau kita melihat kejadian sampai tiga kali bangkit jelas merupakan kebodohan rakyat Indonesia,” ujarnya.
Novel juga mengkritisi polemik Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Haluan Ideologi Pancasila (HIP) yang terjadi pada tahun 2020. Dalam pembahasan tersebut, Fraksi PDIP adalah salah satu fraksi yang menyetujui RUU HIP untuk dilanjutkan. Namun, DPR kemudian mencatat komitmen untuk menghentikan pembahasan RUU HIP sesuai mekanisme yang berlaku.
Menurut Novel, perdebatan mengenai RUU HIP merupakan salah satu momen yang harus menjadi pelajaran bagi masyarakat. “Bahkan Indonesia hampir bangkit kembali komunis yang keempat lewat jalur konstitusi dengan adanya RUU HIP yang dimotori PDIP di tahun 2020,” tegasnya.
Dia juga menyoroti wacana permintaan maaf negara kepada keturunan orang-orang terkait PKI sebagai sesuatu yang perlu diwaspadai. “Bahkan di rezim Jokowi wacana kuat muncul untuk pemerintah meminta maaf kepada anak cucu PKI secara terbuka,” imbuhnya.
Di sisi lain, Novel mengingatkan bahwa Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 yang membubarkan PKI dan melarang ideologi komunisme masih berlaku. “Selain daripada itu, TAP MPRS Nomor 25 tahun 1966 yang melarang ajaran komunisme, Marxisme, serta Leninisme tidak boleh dihapus oleh PDIP,” terangnya.
Dia mengungkapkan bahwa umat Islam telah melakukan berbagai aksi penolakan terhadap RUU HIP. Menurutnya, tekanan masyarakat menjadi bagian penting dari dinamika hingga RUU tersebut tidak dilanjutkan. “Namun umat Islam di mana pun selalu melakukan perlawanan,” tutur Novel.
Novel kemudian mengajak masyarakat untuk tetap waspada terhadap upaya menghapus sejarah PKI. “Sedari itu umat Islam harus waspada dengan bangkitnya komunis gaya baru,” jelasnya.
Dia menyerukan agar masyarakat mengisi momentum 30 September dengan kegiatan edukatif dan keagamaan. “Saya mengimbau agar rakyat Indonesia bersatu untuk antisipasi dan awasi gerak-gerik mereka, dan juga serukan untuk nonton bareng, doa bersama, serta tabligh-tabligh akbar,” pungkas Novel.





