Kisah Busono Membangun Kemandirian Petani Tembakau di Senori

Jakarta, Maret.id — Kader politik seringkali diidentikkan dengan adu gagasan di panggung kekuasaan. Namun, di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Busono menunjukkan bahwa kerja politik juga dapat direalisasikan melalui pemberdayaan ekonomi kerakyatan.
Sebagai Sekretaris PAC PDI Perjuangan Kecamatan Senori, Busono memilih jalur sebagai pengusaha pengolahan tembakau untuk menggerakkan perekonomian lokal. Ia memulai usaha ini pada tahun 2023, memanfaatkan modal mandiri serta pengalaman dari karir di perusahaan tembakau berskala besar.
“Awalnya saya bekerja di perusahaan tembakau. Sisa-sisa hasil panen yang tidak masuk grade perusahaan, kita olah dan jual ke perusahaan rokok pasar lokal,” tuturnya saat ditemui pada Jumat (9/10/2026). Ia menambahkan, dari pengalaman tersebut, ia belajar banyak dan akhirnya memberanikan diri untuk membuka usaha sendiri.
Usaha pengolahan tembakau milik Busono berfokus memenuhi kebutuhan industri rokok nasional, terutama selama musim panen yang berlangsung dari akhir Juli hingga Desember. Kehadiran usahanya berdampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja lokal.
Di sektor pemetikan, Busono merekrut sekitar 30 orang pemetik tembakau di ladang. Sementara itu, sektor pengolahan mempekerjakan 10 pekerja gudang setiap hari hingga malam, menjalani proses perajangan, pengeringan, hingga pengemasan produk siap kirim.
Kecamatan Senori kini dikenal sebagai salah satu sentra pengolahan tembakau. Busono mengikat kerja sama kemitraan resmi dengan perusahaan rokok, mengantongi kontrak penyediaan hingga 100 ton tembakau. “Bekerja sama dengan perusahaan menjadi rekanan itu sangat cocok karena ada kepastian harga dan kepastian pasar bagi petani,” imbuh Busono.
Dalam sistem kemitraan ini, tembakau dikemas dalam bal seberat 50 kilogram dan dikirim dalam tiga tahapan. Memasuki Oktober 2026, usaha Busono telah menjalani musim reguler kedua dengan hasil yang memuaskan.
Namun, tantangan alam tetap menjadi faktor penting dalam bisnis pertembakauan. Kualitas dan harga tembakau sangat tergantung pada kadar air, khususnya saat musim kemarau basah. Pada September lalu, harga daun basah berkisar Rp5.000 hingga Rp5.200 per kilogram, namun terkoreksi menjadi Rp4.500 per kilogram saat memasuki bulan Oktober.
Meski demikian, Busono bersyukur karena dinamika cuaca pada tahun 2026 relatif bersahabat dibanding tahun sebelumnya, sehingga hasil panen petani pegunungan tetap terjaga dengan harga yang menguntungkan. Langkah Busono menjadi contoh nyata bagaimana kemandirian ekonomi dapat dibangun dari bawah, menghubungkan hasil kerja keras petani desa dengan industri nasional melalui semangat gotong royong.





