Harga CPO Ambles Setelah Tekanan dari Turunnya Minyak dan Soyoil

Jakarta, Maret.id — Harga crude palm oil (CPO) acuan berjangka untuk pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives tercatat turun 48 Ringgit atau 1,07 persen ke posisi 4.438 Ringgit per ton metrik pada perdagangan terakhir, terdorong oleh sentimen pasar yang melemah dan sejumlah faktor eksternal.
Tekanan dari pasar minyak nabati global
Sentimen pasar dipengaruhi oleh penurunan harga minyak nabati di China, yang turut menekan permintaan impor dan memicu koreksi harga CPO Malaysia. Di sisi lain, persaingan ketat antarproduk minyak nabati menambah tekanan pada harga sawit di pasar internasional.
Kontrak minyak kedelai di bursa Dalian untuk posisi paling aktif dilaporkan melemah sekitar 0,97 persen, sedangkan kontrak minyak sawit turun 0,78 persen. Pergerakan di Dalian menjadi barometer penting karena hubungan pasokan dan substitusi antar minyak nabati global.
Pengaruh koreksi harga energi
Tekanan tambahan datang dari pasar minyak mentah dunia yang turun sekitar 6 persen, menyentuh level terendah dalam dua pekan terakhir setelah munculnya optimisme terkait kemungkinan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Penurunan harga minyak mentah membuat minyak sawit menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel karena margin keekonomiannya menyusut.
Kondisi ini mendorong para pelaku pasar untuk menilai ulang daya tarik sawit sebagai alternatif bahan bakar, sementara produsen dan eksportir mulai memperhitungkan dampak margin yang lebih tipis terhadap keuntungan.
Data ekspor dan penguatan mata uang
Pelaku pasar kini menunggu rilis data ekspor produk minyak sawit Malaysia periode 1–25 Mei dari perusahaan survei kargo, yang akan menjadi indikator permintaan global jangka pendek. Angka ekspor tersebut dipandang penting untuk menilai arah permintaan dan kemungkinan tekanan lanjutan pada pasokan.
Di sisi nilai tukar, penguatan ringgit Malaysia sekitar 0,3 persen terhadap dolar AS turut membebani harga sawit karena membuat CPO menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli luar negeri, yang berpotensi menekan volume pembelian dan permintaan ekspor.
Dampak kebijakan perdagangan internasional
Selain faktor pasar dan mata uang, investor juga mencermati kebijakan ekonomi negara lain seperti rencana Argentina memangkas pajak ekspor komoditas pertanian secara bertahap dalam dua tahun mendatang. Langkah ini berpotensi meningkatkan daya saing produk minyak nabati asal Argentina di pasar internasional dan memengaruhi peta persaingan.
Perubahan kebijakan tersebut dapat mendorong arus suplai alternatif yang menambah tekanan kompetitif bagi produsen sawit Malaysia dan negara penghasil lainnya, sehingga mempengaruhi dinamika harga global dalam jangka menengah.
Pasar saat ini menunjukkan kehati-hatian karena kombinasi faktor eksternal yang saling terkait, mulai dari fluktuasi harga energi, pergerakan komoditas di bursa Asia, hingga keputusan kebijakan fiskal negara pengekspor. Investor dan pelaku industri diperkirakan akan terus memantau data ekspor serta perkembangan geopolitik yang dapat memengaruhi sentimen pasar dalam beberapa pekan ke depan.





