Harga minyak dunia melejit setelah serangan AS ke Iran

Jakarta, Maret.id — Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 3 persen pada perdagangan Selasa dan ditutup di level 99,58 Dolar AS per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup pada 93,89 Dolar AS per barel.
Lonjakan Harga Dipicu Aksi Militer
Kenaikan tajam ini terjadi setelah militer Amerika Serikat menyatakan telah melakukan serangan yang digambarkan sebagai tindakan untuk membela diri di wilayah selatan Iran. Pihak militer AS menyebut target serangan mencakup lokasi peluncuran rudal serta kapal yang diduga berupaya memasang ranjau di kawasan strategis.
Ancaman Balasan dari Iran
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan akan membalas setiap pelanggaran yang dianggap melanggar gencatan senjata. Iran juga mengklaim telah mendeteksi dan menghadapi drone serta jet tempur F-35 milik AS yang memasuki wilayah udara mereka.
Kekhawatiran terhadap Keamanan Selat Hormuz
Ketegangan geopolitik ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak dunia yang krusial bagi pasokan global. Gangguan lalu lintas kapal dan ancaman pemasangan ranjau dianggap berpotensi menghambat aliran minyak mentah dan produk olahan ke pasar internasional.
Perkembangan Diplomasi dan Pernyataan Presiden AS
Presiden AS Donald Trump sempat memberi sinyal bahwa kesepakatan dengan Iran terkait pembukaan kembali akses melalui Selat Hormuz akan segera tercapai. Namun hingga kini belum ada pengumuman resmi, sementara konflik di lapangan justru meningkat; Trump juga memperingatkan AS dapat kembali melakukan aksi militer jika negosiasi gagal.
Pasar merespons peringatan tersebut sebagai faktor risiko tambahan yang meningkatkan volatilitas harga minyak. Para pelaku pasar menilai pernyataan politik dan aksi militer dapat memperpanjang ketidakpastian pasokan.
Analisis UBS tentang Stok Minyak Global
Bank investasi internasional UBS menyampaikan bahwa stok minyak dunia mengalami penurunan yang signifikan, dengan catatan penurunan sekitar 246 juta barel sepanjang Maret dan April 2026. UBS memperingatkan bahwa penurunan persediaan dan gangguan distribusi menempatkan pasar dalam kondisi kekurangan pasokan yang cukup berat.
UBS menyoroti bahwa penurunan stok minyak mentah dan produk olahan di daratan mencerminkan permintaan yang masih tinggi. Kondisi tersebut diperkirakan akan memperbesar respons harga terhadap setiap gangguan lanjutan di kawasan Timur Tengah.
Implikasi bagi Pasar dan Konsumen
Kenaikan harga minyak segera berpotensi mendorong biaya energi dan transportasi global, yang pada gilirannya berdampak pada inflasi di berbagai negara. Analis memperingatkan bahwa jika eskalasi konflik berlanjut, pasar akan tetap rentan terhadap lonjakan harga yang lebih tajam.
Para investor dan otoritas energi kini memantau perkembangan diplomasi, laporan intelijen, dan data persediaan secara ketat. Kejelasan mengenai keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz dianggap kunci untuk menstabilkan pasar minyak dalam jangka pendek.





