Ekonomi

Rupiah berpotensi tembus Rp18.000 per Dolar AS pada perdagangan besok

Jakarta, Maret.id — Rupiah dinilai berpotensi terus melemah setelah sempat menyentuh level Rp17.887 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026. Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan analisis tersebut dan memperingatkan kemungkinan tekanan lebih lanjut pada pasar valuta asing domestik.

Perkiraan Arah Nilai Tukar

Ibrahim memperkirakan pembukaan perdagangan Jumat kemungkinan mendekati level Rp18.000 per dolar AS. “Kemungkinan besar,” kata Ibrahim dalam penjelasannya mengenai prospek jangka pendek rupiah.

Ia memprediksi tekanan bisa mencapai 100 poin pada sesi sore sehingga kurs bergerak ke kisaran Rp17.900 per dolar AS. Proyeksi ini didasarkan pada kombinasi faktor domestik dan tekanan eksternal yang dinilai saling memperkuat.

Tekanan Domestik yang Meningkat

Menurut Ibrahim, faktor domestik menjadi salah satu pemicu utama pelemahan rupiah. Ia menyoroti kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan kebutuhan impor energi dan memicu permintaan dolar yang lebih tinggi.

Ibrahim juga menyebut pembayaran dividen perusahaan serta transfesa tabungan masyarakat ke aset valuta asing sebagai tekanan tambahan. Selain itu, ia menyinggung besarnya beban pembayaran bunga utang jatuh tempo yang menurut pengamat mencapai angka sekitar Rp600 triliun sehingga memberatkan posisi finansial domestik.

Kekhawatiran terhadap Program Pemerintah

Pengamat itu mengkritik pengelolaan sejumlah program pemerintah yang dinilai memicu kekhawatiran investor asing. Ia mencontohkan mekanisme dan manajemen program MBG serta Koperasi Merah Putih yang menurutnya bermasalah dan mampu menggerus kepercayaan pasar.

“Koperasi Merah Putih yang manajemennya amburadul berpotensi merugikan negara hingga total Rp45 triliun,” ujar Ibrahim, menekankan dampak reputasional yang bisa mempercepat arus modal keluar. Kondisi itu, kata dia, membuat arus modal asing keluar cukup deras terutama selama periode libur panjang.

Respons dan Intervensi Bank Sentral

Ibrahim menilai langkah intervensi yang dilakukan Bank Indonesia sejauh ini belum mampu menahan tekanan besar dari faktor internal maupun eksternal. Ia mengatakan intervensi yang bersifat jangka pendek perlu diikuti kebijakan struktural untuk menghadang eksposur eksternal dan memperbaiki kepercayaan investor.

Di sisi lain, beberapa pejabat pemerintah, termasuk Menteri Keuangan, sebelumnya menyatakan optimisme bahwa rupiah akan menguat, namun pernyataan tersebut menurut Ibrahim belum mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya. Pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto dinilai perlu langkah koordinatif yang lebih konkret untuk meredam risiko volatilitas.

Pengaruh Geopolitik dan Harga Komoditas

Dari sisi global, ketegangan geopolitik dinilai memperburuk sentimen pasar aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang. Ibrahim menyebut eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta perang Rusia-Ukraina sebagai faktor yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Ia mencatat harga minyak melonjak dari kisaran US$92 per barel menuju level sekitar US$96 per barel, yang berimplikasi pada meningkatnya biaya impor energi dan biaya logistik global. Kenaikan biaya ini berpotensi menekan laju inflasi secara global dan turut memengaruhi ekspektasi suku bunga di pasar maju.

Dampak Potensial terhadap Inflasi dan Ekonomi

Kenaikan harga minyak dan biaya logistik dinilai dapat memicu lonjakan inflasi tidak hanya di Amerika Serikat tetapi juga di sejumlah negara lain, termasuk Indonesia. Ibrahim mengingatkan bahwa tekanan inflasi impor akan memengaruhi daya beli domestik dan kebijakan moneter ke depan.

Jika tekanan eksternal berlanjut dan intervensi domestik terbatas, risiko penguatan dolar terhadap rupiah dapat memperberat beban fiskal serta mengerek biaya layanan utang pemerintah dan korporasi. Kondisi ini menuntut koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas makro.

Ibrahim menekankan perlunya transparansi dan perbaikan tata kelola program-program pemerintah demi memulihkan kepercayaan investor serta menahan gelombang arus keluar modal. Ia juga merekomendasikan upaya diversifikasi pasokan energi dan penguatan cadangan devisa sebagai langkah mitigasi jangka menengah.

Dengan latar tekanan domestik dan eksternal yang simultan, pasar valuta asing dinilai masih rentan dalam beberapa waktu ke depan. Para pelaku pasar diharapkan terus memantau pergerakan harga minyak, kebijakan Bank Indonesia, serta berbagai inisiatif pemerintah yang dapat memengaruhi ekspektasi investor.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button