Bank Indonesia berhasil menjinakkan dolar Amerika Serikat melalui intervensi pasar

Jakarta, Maret.id — Bank Indonesia menyatakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah, kata Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, dalam keterangan tertulis, Jumat, 29 Mei 2026.
Tekanan eksternal itu diperparah oleh meningkatnya permintaan valuta asing secara musiman dari sisi korporasi dan pemerintah.
Tekanan Nilai Tukar Rupiah
Menurut pernyataan BI, peningkatan kebutuhan valas untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah.
Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan arus masuk Dolar AS yang relatif terbatas sehingga memengaruhi keseimbangan pasar valas domestik.
BI menilai faktor geopolitik global memberi dampak lanjutan terhadap sentimen pasar keuangan dan nilai tukar mata uang negara berkembang termasuk Indonesia.
Ketidakpastian ini tercermin dalam fluktuasi nilai tukar dan perilaku pelaku pasar yang cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi.
Langkah Bank Indonesia di Pasar Valas
Bank Indonesia menegaskan akan terus hadir dan melakukan intervensi pasar valas untuk menjaga stabilitas rupiah.
Langkah operasional yang ditempuh meliputi pengoptimalan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara konsisten dan terukur.
Selain intervensi pasar secara langsung, BI juga memperkuat efektivitas bauran kebijakan moneter melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter yang bersifat pro-market.
Upaya ini dimaksudkan untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan mendukung masuknya aliran modal asing ke Indonesia.
Kebijakan Operasional dan Pengawasan
Mulai Juni 2026, Bank Indonesia menetapkan ambang batas (threshold) pembelian tunai valuta asing terhadap rupiah tanpa underlying maksimal 25.000 Dolar AS per pelaku per bulan.
Kebijakan ini diharapkan dapat meredam permintaan valas spekulatif dan memperkuat kestabilan pasar valas domestik.
BI juga menegaskan akan memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait dalam rangka mendukung stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar.
Penguatan pengawasan diarahkan pada bank dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian Dolar AS tinggi untuk mencegah disfungsi pasar dan risiko sistemik.
Pengaruh terhadap Pasar dan Pelaku Ekonomi
Di tengah langkah-langkah tersebut, rupiah pada penutupan perdagangan sore dilaporkan melemah 0,2 persen menuju Rp17.880 per Dolar AS.
Pergerakan ini mencerminkan tekanan jangka pendek yang dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan kebutuhan valas musiman.
Kelemahan rupiah berpotensi menambah biaya bagi importir dan perusahaan yang memiliki kewajiban valas jangka pendek, sehingga beberapa pelaku pasar diperkirakan akan memperkuat strategi lindung nilai (hedging).
Sementara itu, investor asing akan terus memantau perkembangan kebijakan dan langkah BI untuk menilai daya tarik aset keuangan domestik.
Komitmen untuk Stabilitas
Bank Indonesia menegaskan komitmen untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur demi menjaga stabilitas nilai tukar dan ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.
Pernyataan resmi BI menekankan kesiapsiagaan otoritas untuk menyesuaikan instrumen kebijakan apabila kondisi pasar menuntut intervensi lebih lanjut.
Para pelaku pasar diminta mewaspadai potensi volatilitas jangka pendek sambil memantau perkembangan geopolitik global dan data ekonomi yang dapat memengaruhi arus modal.
Dengan kombinasi kebijakan pasar dan koordinasi antar-otoritas, BI berharap dapat meredam tekanan dan mendorong stabilitas makroekonomi yang lebih luas.





