Ekonomi

Pertamina Gandeng Desa Keliki, Program DEB Dongkrak Kemandirian Ekonomi Lokal

Jakarta, Maret.id — Desa Ekonomi Berkelanjutan (DEB) Keliki tampil sebagai model desa inovatif yang memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pedesaan melalui pengelolaan sampah dan pertanian ramah lingkungan. Program ini menempatkan pengolahan sampah menjadi kompos dan penguatan ketahanan pangan sebagai fokus utama dalam upaya peningkatan kesejahteraan warga.

PLTS dan TPS3R sebagai Tulang Punggung Operasional

Sistem Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPS3R) di Keliki dikelola untuk menerapkan prinsip Reduce, Reuse, Recycle dan menjadi solusi atas limbah sekitar 7 ton per hari yang dihasilkan desa. Seluruh kebutuhan energi untuk operasional TPS3R dan pompa pengairan pertanian dipasok dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dipasang khusus untuk mendukung kegiatan tersebut.

PLTS berkapasitas 10,5 kWp memasok listrik bagi TPS3R dan mencatat produksi listrik sekitar 14.256 kWh per tahun. Pemasangan PLTS tersebut memberi penghematan biaya listrik sekitar Rp21 juta per tahun dan menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 13,7 ton CO2eq per tahun.

Peningkatan Produktivitas Pertanian

Selain untuk pengolahan sampah, PLTS berkapasitas 17,5 kWp juga menggerakkan pompa air tanah bertenaga surya yang mengairi tujuh subak saat musim kemarau. Subak yang mendapat dukungan meliputi Tain Kambing, Sebali, Uma Desa Keliki, Jungut, Umelikode, Bangkiangsidem, dan Lauh Batu.

Infrastruktur energi hijau ini tercatat menghasilkan sekitar 84.000 kWh energi surya per tahun, menghemat biaya listrik sekitar Rp35 juta per tahun dan mengurangi emisi GRK sebesar 23,1 ton CO2eq per tahun. Dampak langsung terhadap produksi pertanian muncul berupa lonjakan produktivitas padi organik dari 5–5,5 ton per hektare menjadi sekitar 8,7 ton per hektare setelah pembinaan.

Peran Komunitas dan Kepemimpinan Lokal

Ketua BUMDes Yowana Bakti Keliki sekaligus Local Hero, I Wayan Sumada, menjelaskan bahwa perubahan perilaku memilah sampah rumah tangga menjadi organik, anorganik, dan residu menjadi salah satu faktor keberhasilan program. “Kehadiran TPS3R sangat membantu masyarakat untuk mengelola dan mengolah sampah,” ujar Wayan Sumada saat menyampaikan pengalaman warga.

Peran komunitas lokal juga diperkuat melalui pelibatan kelompok pemuda dan UMKM desa yang berkolaborasi dalam rantai nilai produk hasil pengolahan seperti pupuk organik, cairan ecoenzyme, dan kompos organik. Program ini telah membuka peluang usaha baru serta menyerap tenaga kerja lokal dalam skala kecil.

Pengakuan dan Kunjungan Dewan Komisaris Pertamina

Keberhasilan DEB Keliki ditinjau langsung oleh jajaran Dewan Komisaris Pertamina pada Kamis, 28 Mei 2026, yang mendengarkan paparan serta testimoni dari para penerima manfaat program. Komisaris Independen Pertamina, Raden Adjeng Sondaryani, memberikan apresiasi atas dampak nyata yang dirasakan masyarakat dari sisi lingkungan dan ekonomi.

Raden Adjeng menyatakan harapan agar program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan dapat terus memberi dampak langsung kepada masyarakat desa. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya peran korporasi dalam mendukung transisi menuju ekonomi berkelanjutan di tingkat lokal.

Dampak Sosial dan Pariwisata Edukatif

DEB Keliki sekarang bertransformasi menjadi ekosistem percontohan yang menggabungkan kegiatan Eco Village dan agrikultur yang berkelanjutan. Program ini telah memberi manfaat kepada sekitar 1.200 Kepala Keluarga (KK), mempekerjakan sembilan orang secara langsung, dan bermitra dengan 15 UMKM pemuda desa.

Selain itu, inovasi berbasis energi bersih menarik kunjungan wisatawan dan akademisi; sampai saat ini tercatat sekitar 6.000 tamu domestik dan mancanegara datang untuk mempelajari pengelolaan sampah serta praktik pertanian hijau. Kunjungan tersebut turut menggairahkan ekonomi lokal melalui peningkatan omzet warung dan kafe milik warga.

Penutup
Keberhasilan DEB Keliki menunjukkan bagaimana integrasi teknologi energi terbarukan, pengelolaan sampah, dan praktik pertanian ramah lingkungan dapat menciptakan dampak ganda: memperbaiki lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Upaya berkelanjutan dan replikasi model serupa di desa lain dinilai penting untuk memperluas manfaat bagi ketahanan pangan dan pengurangan emisi nasional.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button