Impor migas Indonesia melejit 82,5 persen oleh pasokan Nigeria, Malaysia

Jakarta, Maret.id — Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini, menyatakan nilai impor migas Indonesia melonjak signifikan pada April 2026 dan menjadi salah satu pendorong utama kenaikan total impor sepanjang Januari–April 2026.
Lonjakan Impor Migas
Pudji menjelaskan kenaikan impor migas mencapai 82,52 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada periode yang dikaji. Ia merinci bahwa lonjakan itu terutama disebabkan oleh naiknya nilai impor minyak mentah sebesar 67,49 persen.
Peningkatan impor migas ini tercatat pada konferensi pers BPS di Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026. Pernyataan tersebut menegaskan pergeseran komposisi impor energi yang berdampak pada struktur perdagangan luar negeri Indonesia.
Sumber Impor Minyak Mentah dan Produk Olahan
BPS mencatat tiga negara pemasok utama minyak mentah ke Indonesia pada April 2026 adalah Nigeria, Brasil, dan Kazakhstan. Keterlibatan ketiga negara tersebut menjadi faktor penting dalam kenaikan impor minyak mentah.
Selain minyak mentah, impor hasil minyak juga mengalami lonjakan tajam yakni 87,76 persen yoy. Malaysia, Singapura, dan Mesir disebut sebagai tiga negara asal impor hasil minyak terbesar ke Indonesia dalam periode yang sama.
Pudji menegaskan bahwa komposisi negara asal impor memengaruhi nilai dan volume impor migas secara keseluruhan. Perubahan pola pasokan tersebut juga berimplikasi pada strategi pengadaan dan logistik perusahaan serta kebijakan energi nasional.
Rekapitulasi Nilai Impor Januari–April 2026
Secara kumulatif, nilai impor Indonesia sepanjang Januari–April 2026 mencapai 86,51 miliar Dolar AS atau meningkat 13,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini ditopang salah satunya oleh impor migas yang mencapai 12,93 miliar Dolar AS atau tumbuh 17,58 persen yoy.
Impor nonmigas selama periode tersebut tercatat sebesar 73,58 miliar Dolar AS, meningkat 12,70 persen. Data ini memperlihatkan bahwa meski nonmigas masih menyumbang porsi terbesar, kontribusi migas terhadap pertumbuhan nilai impor menjadi lebih signifikan pada awal 2026.
Implikasi terhadap defisit neraca dagang perlu mendapatkan perhatian, karena kenaikan impor migas berpotensi memperlebar selisih antara impor dan ekspor. Pemerintah dan pelaku industri dituntut mengevaluasi strategi pasokan energi domestik dan alternatif substitusi impor.
Pakar dan pelaku industri energi menyatakan perlu ada koordinasi lebih erat antara kementerian terkait dan pelaku usaha untuk mengurangi ketergantungan impor migas. Langkah-langkah yang disarankan meliputi peningkatan kapasitas kilang dalam negeri, diversifikasi sumber pasokan, serta kebijakan efisiensi energi.
BPS akan terus memantau perkembangan neraca perdagangan dan komposisi impor, serta menyajikan data lanjutan yang diperlukan oleh pembuat kebijakan. Pembahasan mengenai dampak jangka pendek dan jangka panjang dari tren impor ini dipastikan akan tampil dalam laporan bulanan berikutnya dari BPS.





