Ekonomi

Emas Global Ambles Setelah Data Ketenagakerjaan AS Mengungguli Ekspektasi

Jakarta, Maret.id — Harga emas global terkoreksi tajam pada akhir pekan lalu seiring data tenaga kerja AS yang menunjukkan ekonomi masih kuat dan ekspektasi pasar bergeser ke arah suku bunga tinggi yang lebih lama. Pelemahan ini tercatat pada level terendah sejak akhir Maret dan memicu tekanan jual pada seluruh kelompok logam mulia.

Penurunan Harga Emas dan Logam Mulia Lainnya

Emas spot turun 2,96 persen ke 4.341,52 Dolar AS per ons, mencatat penurunan mingguan sekitar 4,3 persen dan menandai level terendah sejak 24 Maret. Di pasar berjangka, kontrak emas AS untuk pengiriman Agustus merosot 3,1 persen menjadi 4.365,30 Dolar AS per ons.

Harga perak tercatat anjlok 6,8 persen menjadi 68,86 Dolar AS per ons, sementara platinum dan paladium masing-masing turun 5,9 persen ke 1.788,49 Dolar AS dan 1.242,50 Dolar AS per ons. Momentum penjualan meluas ke seluruh logam mulia seiring realokasi dana investor ke aset yang memberikan imbal hasil.

Reaksi Pasar Terhadap Data Tenaga Kerja AS

Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan penambahan 172.000 lapangan kerja nonpertanian pada Mei, jauh melebihi ekspektasi pasar yang berada di kisaran 85.000, sehingga menegaskan ketahanan pasar tenaga kerja. Kekuatan data tersebut mengurangi peluang pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat dan mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS ke atas.

Kenaikan imbal hasil obligasi meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan emas yang tidak memberikan kupon, sehingga menambah tekanan jual pada logam mulia. Sentimen moneter inilah yang menjadi salah satu faktor utama penurunan harga emas minggu lalu.

Pengaruh Konflik Timur Tengah dan Harga Energi

Di sisi lain, kekhawatiran geopolitik terutama terkait keterlibatan Iran dalam konflik regional mendorong harga energi lebih tinggi dan menambah risiko inflasi. Kenaikan harga energi memperpanjang ekspektasi pasar bahwa kebijakan moneter ketat perlu dijaga lebih lama demi menahan tekanan inflasi.

Kondisi kombinasi antara inflasi yang terangkat dan imbal hasil riil yang naik menciptakan lingkungan yang kurang bersahabat bagi emas sebagai aset lindung nilai, karena biaya peluang kepemilikan emas menjadi lebih tinggi. Para pelaku pasar kini menimbang antara eksposur terhadap logam mulia dan instrumen pendapatan tetap.

Permintaan Fisik di Asia dan Prospek Pasar

Permintaan fisik emas di Asia juga menunjukkan pelemahan, dengan minat beli di India yang cenderung lesu sepanjang pekan dan penurunan premi emas di pasar China. Kondisi ini menambah tekanan pada harga spot karena pasar fisik yang lebih lemah mengurangi sokongan terhadap harga.

Alat ukur sentimen pasar, CME FedWatch, meningkatkan probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga tinggi hingga Desember menjadi sekitar 72 persen, naik dari kisaran 50 persen sebelumnya, sehingga prospek pemulihan emas dalam jangka pendek menjadi terbatas. Investor kini akan mengarahkan perhatian pada data ekonomi berikutnya dan pernyataan pejabat bank sentral untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter.

Permintaan musiman dan langkah diversifikasi portofolio tetap menjadi faktor penopang jangka menengah bagi emas, namun volatilitas saat ini diperkirakan akan terus tinggi hingga ada kejelasan lebih lanjut soal perkembangan geopolitik dan arah suku bunga AS. Para analis menyarankan pelaku pasar berhati-hati dan mempertimbangkan manajemen risiko yang ketat di tengah kondisi pasar yang bergejolak.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button