Ekonomi

Kadin Mendesak Pemerintah Melindungi Industri Keramik dari Produk Impor

Jakarta, Maret.id — Industri keramik dalam negeri dinilai telah mencapai tingkat kualitas, mutu, dan desain yang mampu bersaing dengan produk impor berdasarkan pantauan pada pameran keramik Indonesia yang digelar di NICE PIK 2 pada 4-7 Juni 2026.

Pameran Menunjukkan Kualitas dan Desain Kompetitif

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Bidang Perindustrian, Saleh Husin, hadir langsung pada pameran tersebut untuk melihat perkembangan produk lokal. Ia mencatat berbagai merek terkemuka menampilkan inovasi desain dan mutu yang menurutnya setara dengan produk impor.

Saleh mengatakan ia sempat berdialog dengan pemilik dan direksi sejumlah perusahaan keramik serta perwakilan asosiasi industri terkait. Ia menyebut Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) ikut aktif dalam mendukung pengembangan mutu dan promosi produk dalam negeri.

Tantangan Harga Energi

Kendati demikian, Saleh mengingatkan ada masalah serius yang mengancam daya saing industri, yaitu struktur harga gas industri yang dinilai tidak wajar saat ini. Ia menerangkan bahwa skema Harga Gas Bumi untuk Industri (HGBT) seharusnya sebesar 7 dolar AS per MMBTU namun implementasinya terbatas hanya pada alokasi 40 persen kebutuhan industri.

Sisanya sebesar 60 persen terpaksa dibeli dengan harga pasar yang mencapai sekitar 21 dolar AS per MMBTU, menurut pengamatan yang disampaikan Saleh. Kondisi ini, menurutnya, berpotensi menurunkan daya saing produsen keramik domestik dan mendorong penghentian produksi di sejumlah pabrik.

Risiko Menjadi Negara Pengimpor

Jika tekanan biaya energi terus berlanjut, Saleh memperingatkan Indonesia berisiko kembali menjadi pengimpor keramik padahal memiliki sumber bahan baku yang memadai. Ia menegaskan bahwa hilangnya kapasitas produksi lokal bukan hanya merugikan pabrikan tetapi juga mengurangi kesempatan kerja dan nilai tambah nasional.

“Industri ini sudah berkembang cukup bagus dan menciptakan lapangan kerja serta memberikan nilai tambah yang signifikan untuk bangsa kita,” ujar Saleh, seraya memperingatkan agar industri tidak tergerus oleh produk impor dan beban energi tinggi.

Seruan untuk Kebijakan Pro-Industri

Saleh meminta adanya keberpihakan kebijakan dari pemerintah untuk menjaga agar pelaku industri keramik dapat menjadi tuan rumah di negara sendiri. Ia menekankan pentingnya pengaturan alokasi HGBT yang lebih adil serta mekanisme harga gas yang mendukung kelangsungan produksi skala industri.

Selain itu, ia mengusulkan dialog terstruktur antara pemerintah, asosiasi seperti ASAKI, dan pelaku usaha untuk merumuskan solusi jangka menengah dan panjang pada masalah pasokan dan harga energi. Langkah-langkah tersebut dinilai perlu agar investasi yang sudah tersalur ke sektor keramik tidak sia-sia dan dapat berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.

Harapan dan Langkah Ke Depan

Pelaku industri berharap kebijakan energi yang pro-bisnis dapat segera diterapkan untuk menstabilkan biaya produksi dan membangun kepercayaan investor. Jika kebijakan itu terealisasi, pengembangan desain, teknologi, dan ekspor produk keramik lokal berpeluang meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Pameran di NICE PIK 2 menjadi cermin bahwa kemampuan manufaktur lokal sudah kuat, namun tantangan struktural seperti harga gas harus segera diatasi agar pencapaian tersebut tidak kehilangan momentum. Para pemangku kepentingan di industri dan pemerintah diharapkan melanjutkan komunikasi agar kebijakan yang dihasilkan berorientasi pada keberlanjutan dan daya saing industri nasional.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button