Gubernur BI Tegaskan Cadangan Devisa RI Aman dan Stabil

Jakarta, Maret.id — Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo membantah anggapan bahwa cadangan devisa Indonesia saat ini berada dalam kondisi mengkhawatirkan.
Perry menyatakan bahwa Bank Indonesia terus mengukur kecukupan cadangan devisa secara ketat sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas eksternal dan nilai tukar rupiah.
Kriteria Penilaian Cadangan Devisa
Perry menjelaskan bahwa salah satu acuan utama yang digunakan adalah indikator adequacy of reserve assets yang dikembangkan oleh Dana Moneter Internasional (IMF).
Indikator ini dipakai untuk menilai seberapa layak cadangan dalam menghadapi tekanan eksternal seperti gejolak pasar valuta asing dan kebutuhan impor.
Berdasarkan perhitungan terbaru yang dipaparkan Perry, tingkat kecukupan cadangan devisa Indonesia masih berada di atas 115 persen dari standar yang direkomendasikan.
Angka tersebut menurut Perry menunjukkan bahwa posisi cadangan saat ini tergolong kuat dan berada di atas ambang kecukupan internasional.
Porsi Cadangan terhadap Impor dan Likuiditas
Perry juga menyebutkan bahwa cadangan devisa saat ini setara dengan pembiayaan sekitar enam bulan impor.
Rasio ini dinilai jauh di atas batas kecukupan yang umum digunakan secara internasional sehingga memberi ruang bagi kebijakan stabilisasi jika diperlukan.
Bank Indonesia, menurut Perry, memonitor secara berkelanjutan komposisi dan likuiditas cadangan agar dapat merespons fluktuasi pasar dengan cepat.
Langkah-langkah tersebut termasuk pengelolaan aset cadangan serta koordinasi kebijakan dengan otoritas fiskal bila diperlukan.
Respon Pemerintah terhadap Kekhawatiran Publik
Perry menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketahanan cadangan devisa nasional dan peran Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi.
Pernyataan tersebut disampaikan saat Perry memberikan keterangan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Selasa, 9 Juni 2026.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa turut memberikan jaminan bahwa kondisi ekonomi Indonesia tidak mengarah pada krisis seperti yang dialami pada periode 1997-1998.
Purbaya menegaskan bahwa kondisi fiskal dan perekonomian nasional masih terjaga dengan baik dan tetap berada pada jalur yang solid.
Implikasi bagi Kebijakan Ekonomi
Posisi cadangan yang memadai memberi ruang bagi otoritas moneter untuk mempertimbangkan pilihan kebijakan tanpa tekanan likuiditas eksternal yang berlebihan.
Namun, Perry dan jajaran pemerintah juga mengingatkan perlunya kehati-hatian berkelanjutan mengingat risiko global yang dapat berubah cepat.
Para analis mencatat bahwa keterbukaan informasi mengenai metodologi penghitungan cadangan serta transparansi data menjadi penting untuk meredam spekulasi di pasar.
Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan dinilai perlu terus menyampaikan data dan penjelasan yang jelas agar pelaku pasar dan publik dapat memahami langkah-langkah kebijakan.
Perry menutup keterangannya dengan menegaskan komitmen Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas moneter dan eksternal.
Sementara itu, pemerintah menekankan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter sebagai kunci mempertahankan ketahanan ekonomi nasional.
Publik dan pelaku pasar akan terus memantau perkembangan indikator makroekonomi serta pernyataan resmi dari otoritas terkait.
Kedua institusi negara tersebut berjanji untuk memperkuat komunikasi dan respons kebijakan apabila kondisi eksternal berubah secara signifikan.





