Bank Indonesia Berpotensi Menaikkan Suku Bunga Jadi 5,75% Kuartal III

Jakarta, Maret.id — Ekonom Bank Mandiri Faisal Rahman menilai ruang untuk kenaikan suku bunga lanjutan masih terbuka karena berbagai risiko eksternal dan domestik belum menunjukkan tanda mereda.
Faisal menyampaikan pandangan itu dalam keterangan kepada publik pada Selasa, 9 Juni 2026, menanggapi langkah Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen.
Kondisi Global yang Menekan
Dari sisi global, menurut Faisal, konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang berpotensi mendorong inflasi dunia dan mempengaruhi arah kebijakan moneter negara-negara maju. Akibatnya, ekspektasi pasar bergerak ke arah Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan akan bersikap lebih agresif, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember 2026.
Alasan BI Mempertahankan Sikap Pro-Stabilitas
Dalam situasi seperti ini, Faisal mengatakan Bank Indonesia perlu mempertahankan kebijakan yang berorientasi pada stabilitas untuk menjaga nilai tukar rupiah dan mengendalikan tekanan inflasi. Langkah kenaikan suku bunga oleh BI, menurutnya, dimaksudkan untuk menjaga stabilitas ekonomi makro serta stabilitas pasar keuangan di tengah ketidakpastian yang meningkat.
Kebijakan pro-stabilitas BI juga diarahkan untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik di mata investor internasional agar aliran modal tetap mendukung likuiditas pasar. Faisal menambahkan bahwa kombinasi risiko eksternal dan kondisi domestik menuntut kewaspadaan yang lebih tinggi dari otoritas moneter.
Implikasi bagi Pasar dan Pelaku Usaha
Kenaikan suku bunga dapat berdampak pada biaya pembiayaan bagi perusahaan dan masyarakat, namun hal itu perlu dilihat sebagai upaya menahan tekanan depresiasi rupiah dan lonjakan harga impor. Pasar keuangan diperkirakan akan merespons kebijakan tersebut dengan penyesuaian portofolio oleh investor baik domestik maupun asing.
Di sisi perbankan, pengetatan kebijakan moneter kemungkinan mendorong kenaikan suku bunga kredit secara bertahap, meski dampaknya berbeda-beda antar bank tergantung profil likuiditas dan eksposur pasar. Pelaku usaha disarankan mempertimbangkan manajemen risiko nilai tukar dan suku bunga untuk menghadapi volatilitas yang berkelanjutan.
Faisal juga mengingatkan bahwa stabilitas makro menjadi kunci untuk mendukung pemulihan ekonomi jangka menengah, sehingga koordinasi kebijakan fiskal dan moneter harus semakin diperkuat. Penguatan fundamental ekonomi domestik melalui reformasi struktural dianggap penting untuk mengurangi kerentanan terhadap guncangan eksternal.
Demikian juga, prospek inflasi domestik akan menjadi ukuran penting dalam menentukan langkah kebijakan selanjutnya, termasuk kemungkinan penyesuaian suku bunga lanjutan oleh BI. Pengawasan terhadap arus modal dan kebijakan makroprudensial tetap diperlukan untuk meredam risiko volatilitas di pasar keuangan.
Di hadapan ketidakpastian global yang belum mereda, Faisal menegaskan bahwa pendekatan yang berhati-hati namun pro-aktif menjadi pilihan kebijakan yang realistis. Hal ini bertujuan memberi sinyal kepada pelaku pasar bahwa otoritas moneter siap menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi sambil memantau perkembangan ekonomi global.





