Harga logam mulia ambles karena pasar waspadai inflasi Amerika Serikat

Jakarta, Maret.id — Harga emas turun ke level 4.300 Dolar AS per ons, sementara perak merosot ke 66 Dolar AS per ons, keduanya kembali ke posisi terendah sejak Desember 2025.
Penyebab Penurunan Harga Logam Mulia
Pelaku pasar menunjuk ekspektasi inflasi yang lebih tinggi di Amerika Serikat sebagai salah satu pemicu penurunan harga logam mulia tersebut. Data ketenagakerjaan terbaru yang menunjukkan penciptaan 172.000 lapangan kerja baru pada Mei dinilai memperkuat sinyal bahwa ekonomi AS tetap kuat sehingga mempengaruhi prospek suku bunga.
Inflasi dan Harga Energi sebagai Faktor Utama
Para analis mengatakan kenaikan estimasi inflasi AS menjadi sekitar 4,2 persen pada Mei, level tertinggi hampir tiga tahun, terutama didorong oleh lonjakan harga energi. Kenaikan harga energi ini mendorong tekanan inflasi yang pada gilirannya memperketat ekspektasi terhadap langkah kebijakan moneter oleh Federal Reserve.
Ekspektasi Kebijakan The Fed
Kombinasi inflasi yang meningkat dan pasar tenaga kerja yang masih kuat membuat investor menilai kemungkinan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada tahun ini. Saat ini pasar menempatkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember berada di kisaran 70 persen, mencerminkan perubahan sentimen dari periode sebelumnya.
Dinamika Pasar dan Reaksi Investor
Penurunan harga emas dan perak mencerminkan pergeseran alokasi portofolio investor dari aset safe-haven menuju aset yang dianggap lebih sensitif terhadap prospek suku bunga. Sebagian pelaku pasar juga mencatat adanya aksi ambil untung setelah reli harga sebelumnya, yang turut menekan harga di pasar spot.
Sentimen risiko global dan permintaan industri turut mempengaruhi pergerakan harga perak, karena logam tersebut memiliki keterkaitan kuat dengan sektor manufaktur dan elektronik. Adanya ketidakpastian terkait pasokan energi dan gangguan rantai pasok juga menjadi variabel yang diawasi ketat oleh pelaku pasar.
Prospek Jangka Pendek dan Skenario yang Mungkin
Dalam jangka pendek, volatilitas harga logam mulia diperkirakan tetap tinggi seiring pelaku pasar menunggu data inflasi dan pernyataan pejabat The Fed berikutnya. Jika data inflasi menunjukkan perlambatan lebih cepat dari perkiraan, tekanan jual dapat berkurang dan membuka peluang pemulihan harga.
Investor dan manajer dana diperkirakan akan terus memantau kombinasi data fundamental AS dan pergerakan pasar energi untuk menentukan strategi lindung nilai. Perubahan sentimen global, termasuk perkembangan geopolitik dan kondisi ekonomi utama lainnya, juga dapat memicu pembalikan arah pergerakan harga.
Pelaku pasar di Indonesia diprediksi akan memperhatikan dampak pergerakan harga emas dan perak terhadap instrumen investasi lokal seperti kontrak berjangka dan produk tabungan emas. Di sisi lain, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menjadi faktor yang akan mempengaruhi harga emas domestik bagi investor ritel.
Akhirnya, meskipun saat ini tekanan menjurus ke penurunan, pasar logam mulia tetap rentan terhadap pembalikan cepat yang dipicu oleh data makro yang tak terduga atau perubahan narasi kebijakan moneter global. Para pelaku pasar disarankan untuk mempertimbangkan manajemen risiko yang ketat mengingat ketidakpastian dalam prospek inflasi dan keputusan suku bunga ke depan.





