Ekonomi

Bank Indonesia menggandakan frekuensi lelang SRBI menjadi dua kali sepekan

Jakarta, Maret.id — Bank Indonesia (BI) resmi meningkatkan frekuensi lelang Sertifikat Bank Indonesia Ritel (SRBI) dari seminggu sekali menjadi dua kali seminggu mulai pekan ini sebagai bagian dari penguatan intervensi di pasar keuangan. Kebijakan ini diumumkan oleh Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, saat memberikan keterangan pers di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu 10 Juni 2026.

Langkah Intensifikasi Lelang SRBI

Menurut Ramdan, peningkatan frekuensi lelang SRBI merupakan langkah strategis untuk memperkuat operasi moneter rupiah dalam menghadapi dinamika pasar global. Ia menyebut peningkatan jadwal lelang dimaksudkan untuk menyerap likuiditas yang berpotensi memicu volatilitas nilai tukar.

Langkah memperbanyak lelang SRBI dianggap penting karena instrumen ini efektif dalam mengelola kelebihan likuiditas domestik. Dengan frekuensi yang lebih tinggi, BI berharap dapat merespons tekanan pasar dengan lebih cepat dan terukur.

Operasi Moneter di Pasar Valuta Asing

Selain SRBI, BI juga meningkatkan intensitas operasi di pasar valuta asing, baik melalui transaksi spot maupun Non Deliverable Forward (NDF) di pasar domestik dan offshore. Ramdan menjelaskan bahwa kombinasi instrumen tersebut dipakai untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah arus modal dan fluktuasi pasar internasional.

BI akan melakukan transaksi spot di pasar domestik untuk menstabilkan kebutuhan likuiditas valuta asing jangka pendek. Sementara itu, operasi NDF di pasar domestik dan offshore menjadi salah satu cara untuk meredam tekanan spekulatif dan menjaga ekspektasi nilai tukar.

Komitmen Menjaga Stabilitas Rupiah

Ramdan menegaskan bahwa Bank Indonesia akan memperkuat berbagai instrumen moneter yang dimiliki untuk menjaga stabilitas rupiah. “Bank Indonesia akan terus all out melakukan upaya-upaya dalam rangka stabilisasi nilai tukar,” ujarnya.

Komitmen ini mencerminkan kesiapan BI untuk menggunakan seluruh alat kebijakan yang tersedia, baik instrumen pasar uang maupun kebijakan lain yang diperlukan. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat menahan gejolak jangka pendek dan memberikan ruang bagi kebijakan ekonomi yang lebih luas.

Evaluasi dan Pengawasan Kebijakan

BI menyatakan seluruh langkah operasional akan terus dievaluasi untuk memastikan efektivitas kebijakan dalam menjaga kestabilan pasar keuangan. Evaluasi tersebut mencakup pengukuran dampak lelang SRBI serta operasi spot dan NDF terhadap likuiditas dan nilai tukar.

Pengawasan ketat terhadap kondisi pasar serta koordinasi dengan otoritas terkait menjadi bagian dari proses evaluasi. BI menegaskan akan menyesuaikan intensitas operasi sesuai perkembangan kondisi ekonomi domestik dan global.

Implikasi bagi Pelaku Pasar

Para pelaku pasar diharapkan dapat menyesuaikan strategi manajemen likuiditas dan lindung nilai menyusul perubahan frekuensi lelang SRBI. Peningkatan frekuensi lelang juga memberi sinyal kepada pelaku pasar bahwa otoritas moneter lebih proaktif dalam merespons tekanan eksternal.

Analis pasar mencatat bahwa sinyal intervensi yang lebih intensif dari otoritas moneter dapat meredam ekspektasi volatilitas, namun efektivitas jangka menengah akan bergantung pada kondisi makroekonomi dan arus modal global. BI menegaskan bahwa kebijakan akan terus disesuaikan bila diperlukan untuk menjaga stabilitas keuangan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button