Peningkatan literasi perpajakan berpotensi memperkuat kepercayaan publik dan investasi

Jakarta, Maret.id — Tubagus Sofiuddin, Ketua Kekal Jurangmangu, menyatakan peluncuran platform literasi pajak itu dimaksudkan sebagai rumah bersama bagi praktisi, penulis, dan akademisi untuk memperkaya pemahaman perpajakan di Indonesia.
Peluncuran Platform dan Tujuan Utama
Acara peluncuran yang diselenggarakan secara luring dan daring tersebut menegaskan komitmen penyelenggara untuk tidak sekadar melaporkan isu pajak melainkan juga membangun kesadaran publik. Menurut Tubagus, jika pajak adalah tulang punggung negara maka literasi pajak merupakan jantung yang mempertahankan kepercayaan publik.
Literasi Pajak sebagai Ruang Publik
Pembicaraan pada acara itu menekankan pentingnya tulisan sebagai sarana menyebarkan pemikiran yang dapat dinikmati generasi mendatang. Tubagus mengutip bahwa lisan hanya didengar oleh yang hadir sementara tulisan dapat berbicara kepada generasi yang belum lahir hari ini.
Dukungan Direktorat Jenderal Pajak
Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Direktorat Jenderal Pajak melalui pernyataan Inge Diana Rismawati, Direktur P2 Humas Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak. Inge menyambut inisiatif yang memperluas ruang dialog perpajakan dan mendorong partisipasi publik dalam isu fiskal.
Agenda Penulisan dan Hari Pajak 2026
Sejalan dengan peluncuran platform tersebut, Direktorat Jenderal Pajak juga menyelenggarakan Lomba Menulis Artikel Perpajakan Tahun 2026 dengan tema “Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global”. Lomba ini digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Pajak 2026 dan ditujukan untuk mendorong kontribusi pemikiran dari berbagai kalangan.
Realisasi Penerimaan Pajak hingga Mei 2026
Inge menyoroti kondisi ekonomi global yang memengaruhi perekonomian nasional dan menuntut respons kebijakan fiskal yang adaptif. Ia melaporkan bahwa hingga Mei 2026 Direktorat Jenderal Pajak telah mencapai sekitar 35,4 persen dari target penerimaan tahunan, atau terhadap target senilai Rp2.357,7 triliun.
Dari persentase tersebut, Inge menyebutkan realisasi penerimaan sampai Mei mencapai sekitar Rp834,4 triliun. Angka itu menjadi landasan bagi upaya bersama dalam meningkatkan kepatuhan dan memperluas basis pajak.
Harapan dari Akademisi dan Praktisi
Pihak penyelenggara berharap platform dan kegiatan literasi ini dapat membantu mencapai target penerimaan pajak yang penting bagi penyangga perekonomian nasional. Inisiasi ini juga diharapkan membuka ruang diskusi yang aktif antara pembuat kebijakan, akademisi, dan praktisi perpajakan.
Diskusi Pakar dan Moderator
Dalam rangkaian acara digelar pula sesi diskusi yang menghadirkan praktisi pajak Slamet Rianto dan akademisi Primandita Fitriandi dari PKN STAN. Diskusi tersebut dimoderatori oleh Agus Puji Priyono, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Sekolah Vokasi Universitas Padjadjaran, yang memfasilitasi tukar pendapat mengenai strategi perluasan basis pajak.
Penutupan acara menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor untuk menjadikan literasi perpajakan sebagai instrumen penguatan fiskal dan tata kelola. Para peserta dan penyelenggara sepakat melanjutkan inisiatif ini sebagai bagian dari upaya berkelanjutan meningkatkan pemahaman publik terhadap kebijakan pajak.





