Harga logam mulia melejit, emas berpotensi tembus rekor baru

Jakarta, Maret.id — Emas mencatat kenaikan untuk sesi ketiga berturut-turut dan bergerak mendekati level 4.300 Dolar AS per ons, sementara perak naik menembus 70 Dolar AS per ons dalam reli yang berlangsung selama tiga hari perdagangan.
Sentimen positif di pasar logam muncul setelah laporan bahwa kesepakatan diplomatik akan mencakup pembukaan kembali akses Selat Hormuz, pelonggaran sanksi terhadap Iran, serta pembongkaran program nuklir Teheran yang direncanakan ditandatangani di Swiss pada 19 Juni mendatang.
Meredanya Ketegangan Geopolitik
Meredanya ketegangan geopolitik turut menekan harga minyak hingga ke level terendah dalam dua bulan terakhir, yang memberi ruang pada aset lain seperti logam mulia untuk bergerak naik. Penurunan harga energi dinilai mereduksi kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global dan potensi pengetatan kebijakan moneter yang sebelumnya membebani harga emas dan perak.
Dinamika Kebijakan Moneter Global
Pelaku pasar kini menantikan serangkaian keputusan bank sentral penting pekan ini, yang diperkirakan akan mempengaruhi arah pasar komoditas dan mata uang. Federal Reserve akan menggelar rapat kebijakan di bawah kepemimpinan Ketua Jerome Powell dan diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya untuk saat ini.
Reserve Bank of Australia yang dipimpin Gubernur Michele Bullock diperkirakan juga akan mempertahankan kebijakan moneternya, sedangkan Bank of Japan di bawah Gubernur Kazuo Ueda diperkirakan dapat melanjutkan langkah-langkah normalisasi yang berpotensi mendorong penguatan nilai tukar yen. Kombinasi ekspektasi kebijakan yang relatif stabil di beberapa negara besar serta langkah pengetatan di tempat lain menciptakan lingkungan yang mendukung permintaan terhadap logam mulia sebagai lindung nilai.
Dampak pada Permintaan dan Aliran Dana
Investor institusional dan ritel dilaporkan kembali meningkatkan minat pada instrumen emas, termasuk pembelian fisik dan peningkatan aliran masuk ke dana ETF berbasis emas. Kenaikan harga perak juga menarik perhatian karena perak memiliki dualitas fungsi sebagai aset industri dan penyimpan nilai, sehingga sensitif terhadap perubahan fundamental ekonomi.
Beberapa analis pasar menilai bahwa jika penandatanganan kesepakatan di Swiss berjalan sesuai jadwal dan meredakan ketegangan di Timur Tengah, tekanan jual pada minyak bisa berlanjut dan memberi ruang lebih luas bagi logam mulia untuk melanjutkan reli. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa prospek jangka menengah tetap rentan terhadap perubahan kebijakan moneter dan volatilitas pasar keuangan global.
Prospek dan Risiko Ke Depan
Para pelaku pasar diminta waspada terhadap potensi volatilitas yang berasal dari data ekonomi utama dan pernyataan pejabat bank sentral dalam beberapa hari ke depan. Selain itu, perkembangan politik atau diplomatik yang tak terduga terkait Iran atau kawasan lain dapat dengan cepat mengubah sentimen dan mempengaruhi arah harga komoditas termasuk emas dan perak.
Secara keseluruhan, kombinasi meredanya risiko geopolitik, pelemahan harga minyak, serta ekspektasi kebijakan moneter yang relatif stabil menjadi faktor utama yang mendorong minat investor terhadap logam mulia. Emas dan perak kembali menjadi sorotan pasar global sebagai aset yang dinilai mampu menjaga nilai investasi di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.





