Ekonomi

IHSG dan Rupiah Menguat Setelah AS

Jakarta, Maret.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan hari ini dengan level tertinggi mencapai 6.345 dan terendah di 6.118. Sebanyak 603 saham berakhir di zona hijau, 125 saham melemah, dan 90 saham tercatat stagnan.

Aktivitas pasar terlihat padat sepanjang sesi perdagangan reguler Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan hari ini. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp30,1 triliun dengan volume perdagangan sekitar 54 miliar saham dan frekuensi transaksi mencapai 3,2 juta kali.

Pergerakan Rupiah

Nilai tukar Rupiah pada penutupan perdagangan menguat ke posisi Rp17.708 per Dolar Amerika Serikat. Dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya, Rupiah menguat sekitar 151 poin atau 0,85 persen menurut catatan pasar keuangan.

Faktor Penyokong Penguatan

Sejumlah analis menilai penguatan Rupiah dipengaruhi oleh sentimen geopolitik positif, khususnya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang membawa prospek pembukaan kembali Selat Hormuz. Salah seorang pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut rencana penandatanganan nota kesepahaman di Swiss pada Jumat mendatang sebagai pemicu turunnya harga minyak dunia dan sentimen positif bagi pasar keuangan domestik.

Ibrahim menjelaskan bahwa penurunan harga minyak mentah dunia di bawah 80 Dolar AS per barel akan menjadi faktor positif bagi perekonomian domestik karena diharapkan mengurangi tekanan terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kondisi ini, menurutnya, turut meredam kekhawatiran fiskal dan memberi ruang bagi stabilitas nilai tukar.

Sentimen Domestik dan Kebijakan Anggaran

Selain faktor eksternal, pasar juga mencermati langkah-langkah efisiensi anggaran di beberapa program pemerintah yang menjadi perhatian publik. Di antaranya adalah potensi efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta rencana pemangkasan target operasional Koperasi Desa Merah Putih hingga sekitar 50 persen yang dinilai memberikan sinyal penataan belanja publik.

Menurut pengamat, kombinasi antara membaiknya kondisi global dan koreksi kebijakan anggaran domestik mendorong masyarakat untuk melepas kepemilikan valuta asing. Imbauan dari pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat untuk menukarkan atau menjual Dolar AS yang disimpan oleh masyarakat disebut turut mempercepat aksi likuiditas tersebut.

Langkah kolektif masyarakat dalam menjual dolar diyakini dapat membantu menstabilkan nilai tukar setelah Rupiah sempat menyentuh level terendah di kisaran Rp18.200 per Dolar AS beberapa waktu lalu. Analis pasar memproyeksikan Rupiah akan tetap fluktuatif namun berpeluang menguat pada perdagangan esok hari dengan kisaran Rp17.650 sampai Rp17.700.

Pasar cenderung berhati-hati memasuki sesi berikutnya dengan fokus pada perkembangan harga minyak global, realisasi efisiensi anggaran domestik, dan respons investor terhadap sinyal kebijakan fiskal. Para pelaku pasar akan terus memantau berita geopolitik dan data ekonomi untuk menentukan arah perdagangan selanjutnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button