Ekonomi

Prospek kesepakatan AS dan Iran mendorong emas serta perak melejit.

Jakarta, Maret.id — Emas bertahan di atas level 4.327 Dolar AS per ons setelah melonjak lebih dari 2 persen pada sesi sebelumnya, sementara perak diperdagangkan mendekati 70 Dolar AS per ons usai menguat hampir 3 persen.

Sentimen Pasar Terangkat oleh Harapan Kesepakatan AS-Iran

Sentimen pasar mendapat dorongan dari harapan bahwa kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan akan ditandatangani di Swiss pekan ini dapat membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Pembukaan kembali jalur tersebut dipandang berpotensi memulihkan kelancaran pasokan minyak dari Teluk Persia dan meredam kekhawatiran akan lonjakan harga energi.

Ekspektasi atas solusi diplomatik ini membantu meredakan sebagian ketidakpastian pasokan yang selama beberapa waktu menjadi pendorong utama kenaikan harga komoditas energi. Dampaknya tercermin pada reli logam mulia, yang sering bereaksi terhadap perubahan persepsi risiko geopolitik dan inflasi.

Investor Menunggu Rincian Resmi

Meski demikian, investor tetap berhati-hati karena Washington dan Teheran belum merilis rincian resmi nota kesepahaman yang menjadi dasar kesepakatan tersebut. Pasar masih menganggap kemungkinan perubahan atau penundaan sebagai risiko yang dapat memicu volatilitas kembali.

Ketiadaan detail teknis membuat pelaku pasar lebih mengandalkan perkembangan harian dan pernyataan pejabat, sehingga setiap komunikasi baru berpotensi mendorong pergerakan tajam pada harga aset berisiko maupun safe haven.

Fokus pada Kebijakan Moneter

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menantikan serangkaian keputusan kebijakan moneter pekan ini, termasuk pertemuan Federal Reserve yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya. Pertemuan tersebut berlangsung di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Jerome H. Powell, dan hasilnya dinilai berpeluang menentukan arah pasar komoditas dan mata uang.

Kebijakan bank sentral global lain juga menjadi perhatian karena langkah-langkah pengetatan atau pelonggaran dapat memengaruhi permintaan untuk logam mulia sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan gejolak mata uang.

Daya Tarik Aset Safe Haven

Kombinasi ketidakpastian geopolitik dan sikap wait-and-see terhadap arah kebijakan bank sentral membuat permintaan terhadap aset safe haven seperti emas dan perak tetap terjaga. Investor institusional dan ritel cenderung menempatkan sebagian portofolio mereka pada logam mulia ketika risiko global meningkat atau prospek inflasi menguat.

Aliran dana ke produk berbasis logam, termasuk dana yang diperdagangkan di bursa (ETF), serta permintaan fisik untuk perhiasan dan industri, turut menjadi faktor penopang harga di tengah kondisi pasar saat ini.

Peluang dan Risiko ke Depan

Analis pasar memperingatkan bahwa walaupun prospek diplomasi memberi ruang bagi penurunan tekanan harga energi, kegagalan implementasi kesepakatan atau eskalasi baru antara pihak-pihak terkait bisa segera membalikkan sentimen. Oleh karena itu, volatilitas jangka pendek pada harga emas dan perak diperkirakan akan tetap tinggi sampai ada kepastian lebih lanjut.

Di sisi lain, jika pertemuan bank sentral mengindikasikan sikap yang lebih akomodatif dari perkiraan, maka daya tarik emas sebagai alternatif investasi terhadap aset berbunga rendah bisa meningkat. Pelaku pasar disarankan memonitor perkembangan diplomatik dan pengumuman kebijakan moneter untuk menilai risiko dan peluang.

Pasar komoditas akan terus mengamati pergerakan harga minyak sebagai indikator utama tekanan inflasi dan permintaan terhadap logam mulia, karena korelasi antara harga energi dan persepsi inflasi tetap menjadi salah satu driver utama dalam dinamika harga emas dan perak.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button