Ekonomi

Saham Indonesia berpotensi naik setelah koreksi sehingga investor membeli

Jakarta, Maret.id — Rosan Roeslani, Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, mengatakan koreksi pasar yang berlangsung beberapa waktu terakhir telah membuat valuasi banyak perusahaan tercatat menjadi lebih menarik. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan pada Selasa, 16 Juni 2026.

Valuasi Saham Dinilai Murah

Rosan menyatakan bahwa harga saham emiten Indonesia saat ini relatif lebih murah jika dibandingkan dengan fundamental bisnis yang kuat. “Karena koreksi kemarin selama hampir beberapa bulan ini menyebabkan pricing dari perusahaan kita menjadi sangat baik dan sangat murah,” ujarnya.

Indikator Fundamental dan Pasar

Menurut Rosan, sejumlah indikator seperti tingkat dividen, yield, dan rasio price to book menunjukkan peluang nilai yang menarik untuk investor. Ia menambahkan bahwa kondisi ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan kesehatan bisnis yang mendasari banyak emiten.

Daya Tarik Sektor Perbankan

Rosan menyoroti bahwa sektor perbankan tetap menunjukkan kinerja yang sehat sehingga memberi kepercayaan tambahan bagi pelaku pasar. Kombinasi perbankan kuat dan fundamental ekonomi yang solid membuat prospek investasi di pasar modal domestik lebih menonjol.

Banyak investor global, kata Rosan, mulai melihat Indonesia sebagai destinasi investasi jangka panjang yang menjanjikan. “Secara otomatis mereka melihat it’s time to buy,” ujarnya singkat untuk menggambarkan sentimen pasar asing.

Perbaikan valuasi saham menurutnya mendorong masuknya modal asing yang mencari aset dengan harga terdiskon tetapi memiliki prospek earnings yang baik. Aliran modal asing tersebut diperkirakan dapat memperkuat likuiditas pasar serta mendukung penguatan indeks.

Rosan juga menekankan pentingnya stabilitas makroekonomi untuk mempertahankan kepercayaan investor. Ia mengingatkan bahwa sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, dan reformasi struktural menjadi penopang utama kesinambungan pertumbuhan.

Dari sisi pergerakan mata uang, nilai tukar Rupiah pada perdagangan Selasa pagi dibuka di level Rp17.704 per Dolar AS, menguat lima poin atau 0,03 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Penguatan ini dinilai turut memberikan sentimen positif bagi investor yang menilai risiko nilai tukar semakin terkendali.

Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan sebelumnya pada Senin, 15 Juni 2026, melonjak 247 poin atau 4,12 persen ke level 6.254. Lonjakan IHSG tersebut mencerminkan respons positif pasar terhadap kombinasi faktor valuasi dan sentimen global.

Para analis pasar mencatat bahwa koreksi sebelumnya telah membersihkan ekses harga sehingga sekarang terlihat adanya peluang pembelian. Namun mereka juga mengingatkan perlunya selektivitas, karena tidak semua emiten akan pulih secara bersamaan.

Rosan menutup keterangannya dengan optimisme hati-hati dan ajakan kepada investor untuk melihat investasi dengan horizon jangka panjang. Ia berharap perbaikan valuasi dan kondisi ekonomi yang semakin solid dapat menarik partisipasi lebih besar dari investor domestik maupun internasional.

Pernyataan Rosan menambah satu catatan penting dalam perkembangan pasar modal Indonesia yang kini sedang dalam fase penyesuaian valuasi dan pencarian titik keseimbangan baru. Para pemangku kepentingan diharapkan terus memantau data ekonomi dan kinerja korporasi untuk menilai momentum investasi selanjutnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button