Sawit Diprediksi Menjadi Penyangga Stabilitas Ekonomi Nasional

Pangkalan Bun, Maret.id — Kebutuhan minyak sawit nasional diproyeksikan mencapai 41 juta ton pada 2045 seiring meningkatnya konsumsi dalam negeri. Untuk memenuhi kebutuhan domestik tanpa mengorbankan volume ekspor, Indonesia diharuskan memaksimalkan produktivitas kelapa sawit yang potensinya dapat mencapai 5–6 ton CPO per hektar per tahun.
Media Perkebunan, didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kalimantan Tengah, menyelenggarakan Teknis Kelapa Sawit (TKS), pameran, dan field trip pada 28–30 April 2026 di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Tengah. Dalam sesi keynote yang ditulis oleh Prof. Dr. Bungaran Saragih dan diwakilkan oleh Dr. Gusti A. Gultom, dipaparkan peran sawit sebagai penyumbang devisa terbesar sekaligus stabilisator ekonomi nasional.
Peran Sawit sebagai Penyangga Ekonomi
Prof. Bungaran menyoroti bahwa sektor kelapa sawit konsisten berfungsi sebagai penyangga saat negara menghadapi guncangan ekonomi. Tiga krisis besar—krisis moneter 1998, krisis keuangan global 2008, dan pandemi COVID-19 pada 2020–2021—menimbulkan tekanan seperti pelemahan nilai tukar, peningkatan pengangguran, dan lonjakan angka kemiskinan. Namun menurutnya, sektor sawit tetap menjadi salah satu pilar yang menjaga kestabilan ekonomi.
“Sektor sawit memiliki keterlibatan sosial-ekonomi yang sangat luas, dengan lebih dari 16 juta tenaga kerja. Dalam setiap krisis, ketika banyak sektor goyah, sawit tetap berdiri tegak,” ujar Prof. Bungaran, menekankan peran lapangan kerja dan dampak sosial-ekonomi sektor ini.
Peningkatan Produktivitas dan Peremajaan Perkebunan
Salah satu langkah strategis yang ditekankan dalam acara tersebut adalah peremajaan perkebunan kelapa sawit rakyat (PSR). Replanting dianggap krusial untuk meningkatkan produktivitas dan mendukung ketahanan pangan serta energi nasional, termasuk ketersediaan minyak nabati untuk pangan dan bahan bakar nabati.
Dr. Gusti A. Gultom menyatakan bahwa produktivitas sawit setelah replanting meningkat signifikan, yakni lebih dari 3 ton CPO per hektar per tahun dibandingkan tanaman tua. Ia juga menyoroti kebutuhan CPO yang terus naik seiring implementasi program biodiesel B50, yang diperkirakan membutuhkan 17–18 juta ton CPO. “Kebutuhan untuk pangan pun akan terus naik sehingga harus dilakukan replanting segera,” kata Gusti, menegaskan urgensi tindakan untuk memenuhi permintaan domestik dan target energi terbarukan.
acara di Pangkalan Bun menjadi wadah diskusi teknis dan praktik lapangan untuk mendorong percepatan replanting, peningkatan produktivitas, serta sinergi antara pelaku usaha, pemerintah, dan petani guna menjamin ketersediaan minyak sawit bagi kebutuhan nasional di masa mendatang.





