Ekonomi

Harga minyak dunia raih kestabilan setelah Selat Hormuz dibuka kembali

Jakarta, Maret.id — Harga minyak mentah bergerak beragam pada penutupan perdagangan Kamis, 18 Juni 2026, sementara pelaku pasar memilih posisi hati-hati karena pemulihan arus pengiriman minyak diperkirakan berlangsung bertahap. Sentimen pasar tetap rentan terhadap perkembangan keamanan dan logistik di Selat Hormuz serta kepastian implementasi perjanjian antara Amerika Serikat dan Iran.

Pergerakan Harga

Pada penutupan perdagangan Kamis, 18 Juni 2026, harga minyak mentah Brent naik 30 sen menjadi 79,85 Dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) turun 19 sen ke level 76,60 Dolar AS per barel. Secara keseluruhan, harga minyak telah turun lebih dari 11 persen sejak Amerika Serikat dan Iran mengumumkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik pada akhir pekan lalu.

Isi Kesepakatan dan Implikasi

Perjanjian yang diteken pada Rabu, 17 Juni 2026, oleh perwakilan kedua negara memuat ketentuan bahwa Iran mengizinkan kapal-kapal melintasi Selat Hormuz tanpa dikenakan biaya selama 60 hari, sementara AS menghentikan operasi blokade angkatan lautnya. Ketentuan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi gangguan jalur pengiriman minyak utama dunia, namun pasar memerlukan konfirmasi operasional yang lebih luas untuk menilai dampak jangka menengah.

Reaksi dan Observasi di Lapangan

Seorang pejabat AS menyatakan Iran menepati komitmennya dengan tidak menyerang kapal-kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz selama dua malam berturut-turut, sebagai indikasi awal meredanya ketegangan. Di sisi lain, Komando Pusat Militer AS (Centcom) dilaporkan telah mengizinkan lebih dari selusin kapal melewati blokade sebelum akhirnya mengumumkan penghentian operasi tersebut.

Data dari perusahaan pelacak kapal Kpler menunjukkan lalu lintas kapal belum mengalami lonjakan signifikan setelah perjanjian, sehingga pemulihan penuh masih belum tampak. Hingga Kamis pagi, tercatat hanya tiga kapal tanker asal Arab Saudi yang membawa sekitar enam juta barel minyak terlihat berada di Teluk Oman, menurut pantauan tersebut.

Sebelum konflik pecah, lebih dari 100 kapal, termasuk puluhan kapal tanker minyak, melintasi Selat Hormuz setiap hari sehingga angka saat ini masih jauh di bawah level normal. Analis pasar menilai bahwa pemulihan kapasitas pelayaran dan logistik akan bergantung pada keputusan operator pelayaran, asuransi, dan jaminan keamanan yang cukup di kawasan.

Prospek Pasar dan Faktor Risiko

Para pedagang minyak dan investor tetap mengawasi data pengiriman, tingkat produksi negara-negara produsen, serta cadangan komersial sebagai indikator pemulihan permintaan dan pasokan. Risiko geopolitik dan potensi gangguan klaster pasokan masih berpeluang memicu volatilitas harga dalam jangka pendek hingga ada bukti arus pengiriman kembali normal secara konsisten.

Di pasar finansial, sentimen jangka pendek kemungkinan akan dipengaruhi oleh laporan pelayaran harian, pernyataan resmi dari otoritas terkait, dan dinamika permintaan global yang terus berubah. Investor disarankan memantau perkembangan di lapangan dan pengumuman resmi pihak terkait sebagai acuan dalam menilai prospek harga minyak ke depan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button