Ekonomi

Pernyataan Trump Soal Gencatan Senjata Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia

Beijing, Maret.id — Harga minyak dunia kembali menguat pada penutupan perdagangan Senin setelah eskalasi ketegangan di kawasan Teluk yang menghapus optimisme pasar akan meredanya konflik. Brent ditutup naik 2,88 persen ke level 104,21 Dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) meningkat 2,78 persen menjadi 98,07 Dolar AS per barel. Selama perdagangan, Brent sempat menyentuh 105,99 Dolar AS per barel dan WTI menembus 100,37 Dolar AS per barel.

Kenaikan Harga dan Reaksi Pasar

Kenaikan harga tersebut membalik penurunan sekitar 6 persen yang terjadi pekan lalu ketika pasar sempat berharap konflik yang telah berlangsung sekitar 10 minggu akan mereda dan jalur pengiriman melalui Selat Hormuz kembali normal. Namun pasar berbalik setelah Presiden AS menolak tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian AS, menyebut respons Teheran “bodoh” dan “sama sekali tidak dapat diterima.”

Analisis pasar menunjukkan perubahan cepat persepsi risiko. Menurut Florence Schmit, analis energi di Rabobank, narasi pasar yang semula mengarah pada de-eskalasi kini kembali ke arah eskalasi hanya dalam beberapa hari, sehingga mendorong kenaikan harga minyak.

Dampak pada Pasokan dan Jalur Pengiriman

Ketegangan di kawasan membuat jalur penting ekspor minyak dunia melalui Selat Hormuz masih terganggu. Dilaporkan ada tiga kapal tanker yang meninggalkan selat dengan sistem pelacak dimatikan, indikasi meningkatnya risiko keamanan di perairan tersebut.

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, memperingatkan dunia telah kehilangan sekitar 1 miliar barel minyak dalam dua bulan terakhir akibat gangguan pasokan. Ia menilai pasar energi akan membutuhkan waktu cukup lama untuk kembali stabil meski pengiriman minyak kelak pulih. Dampak nyata juga terlihat pada produksi negara-negara anggota OPEC, yang turun ke level terendah lebih dari dua dekade pada April 2026—perkiraan survei menunjukkan penurunan sekitar 830 ribu barel per hari menjadi sekitar 20,04 juta barel per hari.

Selain itu, analis di JPMorgan Chase memperkirakan harga minyak akan tetap berada di kisaran 100 Dolar AS per barel hingga akhir tahun. Mereka memperkirakan rata-rata harga minyak untuk 2026 berada di sekitar 97 Dolar AS per barel, dengan asumsi normalisasi pasokan yang tidak akan berlangsung cepat meskipun Selat Hormuz dibuka kembali.

Implikasi Politik dan Pertemuan Pemimpin Dunia

Isu konflik Iran diperkirakan akan menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan antara Presiden AS dan Presiden China di Beijing pekan ini. Iran sebelumnya mengajukan sejumlah syarat untuk mengakhiri konflik, termasuk penghentian perang di semua front, pencabutan sanksi, jaminan tidak ada serangan lanjutan, penghentian blokade laut oleh AS, kompensasi atas kerusakan akibat perang, serta pencabutan larangan penjualan minyak Iran.

Dengan latar tekanan pasokan dan ketidakpastian geopolitik yang terus berlangsung, pasar energi global kini tetap rentan terhadap perkembangan politik dan keamanan di kawasan Teluk.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button