Ekonomi

BNI Gandeng Program Desa Sehat Tekan Stunting dan Dongkrak Ekonomi

Jakarta, Maret.id — BNI meluncurkan Program Desa Sehat Bebas Stunting yang berfokus pada empat desa di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yakni Sukamanah, Banjarsari, Wanasuka, dan Margamukti. Program ini digelar melalui inisiatif sosial bertajuk “BNI Berbagi” bekerja sama dengan Puskesmas Sukamanah dan Pemerintah Kecamatan Pangalengan.

Lokasi dan sasaran intervensi

Program dipusatkan di desa-desa yang dipilih berdasarkan kebutuhan kesehatan komunitas setempat. Sasaran utama meliputi anak-anak berisiko stunting, ibu hamil dengan kondisi Kurang Energi Kronis (KEK), serta remaja putri.

Intervensi diarahkan untuk kelompok rentan tersebut agar dampak gizi buruk dapat dipangkas sejak dini. Pendekatan ini juga bertujuan memutus rantai stunting dari hulu demi kualitas sumber daya manusia jangka panjang.

Bantuan nutrisi dan paket kesehatan

BNI menyalurkan paket pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan kepada 65 anak yang berisiko stunting selama 52 hari berturut-turut. Selain itu, 12 ibu hamil dengan kondisi KEK menerima paket nutrisi khusus untuk konsumsi selama 60 hari.

Untuk mencegah anemia dan meningkatkan status gizi remaja putri, program menyediakan tablet tambah darah serta suplemen bagi 50 remaja putri. Seluruh bantuan bertujuan memberikan intervensi gizi yang tepat sasaran dan terukur.

Pendampingan dan pemantauan berkala

Program dirancang berjalan selama tiga bulan lengkap dengan pemantauan serta pendampingan berkala oleh petugas kesehatan setempat. Pengukuran berkala diharapkan memberi data yang dapat menunjukkan efektivitas intervensi dalam waktu relatif singkat.

Tim pelaksana menekankan pentingnya catatan perkembangan gizi anak dan laporan berkala dari posyandu sebagai dasar evaluasi serta penyesuaian intervensi. Hal ini sekaligus menjadi langkah untuk menjaga kesinambungan perbaikan gizi di tingkat komunitas.

Sinergi multi-pihak

Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menyatakan inisiatif ini merupakan bentuk kontribusi nyata BNI dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Okki menegaskan bahwa kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program.

BNI juga menekankan bahwa penanganan stunting tidak bisa berjalan sendiri dan membutuhkan integrasi layanan serta partisipasi aktif warga. Oleh sebab itu, program menggabungkan edukasi gizi, revitalisasi fungsi posyandu, serta penguatan ekosistem lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.

Alasan pemilihan Kabupaten Bandung

Pemilihan Kabupaten Bandung sebagai lokus program didasarkan pada data survei yang menunjukkan angka prevalensi stunting masih membutuhkan perhatian. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Kabupaten Bandung tercatat 24,1 persen, angka yang relatif tinggi dibanding rata-rata wilayah setempat.

Fokus intervensi diarahkan pada upaya penurunan angka tersebut melalui intervensi gizi terintegrasi dan program edukasi yang berkelanjutan. Pendekatan ini juga dimaksudkan untuk mendukung target nasional dalam jangka panjang.

Komitmen jangka panjang

BNI menjadikan program ini bagian dari komitmen korporasi untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai investasi masa depan. Langkah tersebut sekaligus menyelaraskan dukungan sektor swasta terhadap upaya pemerintah dalam mewujudkan generasi sehat dan berkualitas.

Melalui program Desa Sehat Bebas Stunting, BNI berharap dapat memberi dampak langsung sekaligus mendukung upaya pemerintah menuju visi Indonesia Emas 2045, dengan menekankan bahwa pencegahan stunting harus dimulai sedini mungkin.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button