Rupiah Tembus Level Baru Didukung Aliran Utang Global

Jakarta, Maret.id — Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai penerbitan utang Danantara senilai 1,5 miliar Dolar AS menjadi salah satu pemicu penguatan nilai tukar rupiah belakangan ini namun bersifat sementara. Bhima mengatakan aliran modal dari obligasi lebih berdampak pada arus portofolio ketimbang mendorong investasi riil yang menciptakan lapangan kerja dan kapasitas produksi.
Pengaruh Penerbitan Obligasi terhadap Rupiah
Menurut Bhima, efek penerbitan obligasi terhadap stabilitas nilai tukar terutama bersifat jangka pendek dan volatil. Ia menekankan bahwa perbedaan antara investasi portofolio dan investasi langsung terlihat dari dampaknya terhadap aktivitas ekonomi riil.
Bhima menjelaskan bahwa penguatan rupiah pada pekan terakhir tidak didorong oleh realisasi investasi asing seperti pembangunan pabrik. Ia menilai aksi korporasi seperti penerbitan obligasi Danantara hanya memperbaiki likuiditas dan persepsi pasar dalam waktu singkat.
Respons Pihak Danantara
Pimpinan Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengklaim bahwa penguatan rupiah dan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merupakan hasil dari membaiknya persepsi investor terhadap Indonesia. Rosan mengatakan bahwa langkah-langkah yang ditempuh pemerintah dan Danantara telah berkontribusi memulihkan kepercayaan pasar global.
Rosan menuturkan bahwa Danantara melakukan roadshow ke pusat-pusat keuangan dunia dan bertemu sekitar 122 investor global untuk memaparkan rencana dan kebijakan. Ia menilai para investor yang semula ragu mulai menunjukkan kepercayaan kembali setelah melihat respons kebijakan yang dinilai cepat dan tepat.
Data Pergerakan Nilai Tukar dan Kebijakan Moneter
Sejak penerbitan obligasi perdananya pada 12 Juni 2026, kurs rupiah bergerak menguat ke kisaran Rp17.600-Rp17.700 per Dolar AS dari posisi sekitar Rp18.000 pada pekan-pekan sebelumnya. Pergerakan ini juga terjadi bersamaan dengan kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75 persen pada 18 Juni 2026.
Penguatan yang tercatat di pasar valuta asing dan pasar modal, menurut pengamat, merupakan hasil kombinasi faktor internal dan eksternal termasuk kebijakan moneter yang lebih ketat. Namun para ekonom mengingatkan bahwa tanpa investasi produktif dan perbaikan fundamental yang berkelanjutan, tekanan ke luar dapat kembali mempengaruhi nilai tukar.
Tanggapan Pasar dan Tantangan ke Depan
Pasar merespons positif kabar penerbitan obligasi dan rangkaian pertemuan dengan investor, tetapi kepercayaan ini dinilai rentan terhadap sentimen global dan perubahan aliran modal. Para pelaku pasar dan analis menyoroti pentingnya implementasi kebijakan yang konsisten untuk mempertahankan momentum.
Bhima mengingatkan pemerintah dan pelaku pasar untuk tidak semata mengandalkan instrumen utang jangka pendek sebagai penopang stabilitas. Ia mengusulkan agar perhatian dialihkan pada upaya meningkatkan realisasi investasi langsung, reformasi struktural, dan kebijakan fiskal yang mendukung produktivitas.
Rosan menyatakan komitmen Danantara untuk terus aktif berkomunikasi dengan komunitas investor global dan mendukung langkah-langkah pemulihan ekonomi. Ia menegaskan bahwa langkah-langkah transparansi dan strategi pembiayaan bertujuan memberi sinyal positif kepada pasar tentang prospek ekonomi Indonesia.
Implikasi Kebijakan dan Rekomendasi Ekonom
Para ekonom menyarankan agar kombinasi kebijakan moneter, fiskal, serta insentif untuk investasi langsung dikelola secara sinergis. Mereka menilai penguatan nilai tukar yang berkelanjutan memerlukan perbaikan fundamental seperti stabilitas fiskal, iklim investasi yang kondusif, dan peningkatan daya saing ekspor.
Di sisi lain, otoritas moneter dan regulator diminta waspada terhadap potensi keluarnya modal apabila kondisi global berubah. Koordinasi kebijakan yang baik di antara pemerintah, bank sentral, dan pelaku pasar dianggap krusial untuk mencegah fluktuasi tajam yang dapat mengganggu pemulihan ekonomi.
Penutup: Sementara penerbitan obligasi Danantara memberikan angin sementara bagi rupiah dan pasar modal, tantangan jangka panjang masih menuntut kebijakan yang menstimulasi investasi produktif dan memperkuat fundamental ekonomi nasional agar penguatan nilai tukar dapat bertahan.





