Dolar AS Sentuh Puncak Tertinggi Setahun, Penguatan Mendorong Kenaikan Imbal Hasil Obligasi dan Tekan Rupiah

Jakarta, Maret.id — Arus dana ke aset aman meningkat di tengah tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Pelaku pasar menilai pertemuan kebijakan The Fed pekan lalu, pertemuan pertama di bawah kepemimpinan Ketua baru Kevin Warsh, mengirimkan sinyal yang lebih hawkish dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Meskipun tekanan inflasi global mulai mereda seiring turunnya harga minyak, investor kini semakin memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.
Data CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan Juli melonjak menjadi 36,3 persen, dari 8,5 persen sepekan sebelumnya.
Peluang kenaikan pada pertemuan September juga meningkat signifikan menjadi 69,1 persen, dibandingkan 29,1 persen sebelumnya.
“Penguatan greenback mencerminkan penyesuaian ekspektasi investor terhadap prospek suku bunga AS yang lebih tinggi…” kata Eugene Epstein, Head of Trading and Structured Products Moneycorp.
Dampak perubahan ekspektasi tersebut terlihat menjalar ke berbagai kelas aset, termasuk saham, emas, dan pasar valuta asing.
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama, naik 0,38 persen menjadi 101,39.
Indeks ini sempat menyentuh 101,42, level tertinggi sejak Mei 2025.
Euro melemah 0,41 persen ke 1,138 Dolar AS dan sempat turun ke 1,1374 Dolar AS, posisi terendah sejak Juni 2025.
Poundsterling turun 0,45 persen menjadi 1,3187 Dolar AS di tengah proses transisi pemerintahan pasca-pengunduran diri Perdana Menteri Keir Starmer.
Yen Jepang juga berada di bawah tekanan, dengan Dolar AS menguat tipis menjadi 161,55 yen.
Level 161,96 dipandang sebagai batas teknikal penting yang dapat membawa yen ke titik terlemahnya sejak 1986 apabila berhasil ditembus.
Pemerintah Jepang terus mencermati gejolak pasar valuta asing.
Menteri Keuangan Satsuki Katayama dilaporkan telah berdiskusi secara daring dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengenai volatilitas nilai tukar dan kemungkinan langkah kebijakan untuk meredam pelemahan yen yang berlebihan.
Pergerakan mata uang global dan penguatan dolar berimplikasi pada tekanan terhadap aset berisiko di pasar domestik dan berpotensi menekan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.





