Ekonomi

Pemerintah Ajak Swasta Garap Proyek Kereta Trans Sumatra 478 Kilometer untuk Dorong Investasi, Efisiensi Logistik dan Pertumbuhan Ekonomi Regional

Jakarta, Maret.id — Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan proyek pembangunan jaringan kereta di Sumatra tidak akan menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Harapannya tidak akan membebani APBN, tetapi lebih ke dunia usaha. Harapan juga swasta ikut terlibat,” kata Dudy Purwagandhi, Menteri Perhubungan.

Pernyataan itu dikutip Rabu 24 Juni 2026.

Saat ini jalur rel aktif di Pulau Sumatra berada di wilayah Sumatra Selatan dan digunakan untuk mengangkut batu bara.

PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk mengangkut komoditas tersebut.

Pengembangan kereta yang fokus pada angkutan barang dinilai penting untuk menunjang efisiensi logistik di wilayah Sumatra.

Rencana pengembangan juga akan memusatkan perhatian pada jalur pengangkut batu bara di Sumatra Selatan serta integrasi jalur kereta dengan kawasan industri dan pelabuhan.

Dudy sebelumnya menyebut China, Rusia, hingga Amerika Serikat melirik pengembangan jaringan kereta api di luar Pulau Jawa.

Dari peluang kerja sama tersebut, baru China dan Rusia yang telah menyatakan minat untuk terlibat dalam pengembangan proyek, sebagaimana permintaan Presiden Prabowo Subianto.

Terpisah, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin menjelaskan jaringan kereta di Sumatra saat ini masih terpisah-pisah dan belum saling terhubung secara menyeluruh.

Kondisi itu menjadi tantangan dalam mewujudkan sistem transportasi berbasis rel yang terintegrasi di pulau tersebut.

Bobby menyebut panjang jalur yang akan dikembangkan pada tahap awal mencapai sekitar 478 kilometer.

Saat ini KAI tengah menyiapkan detail engineering design (DED) sebagai bagian dari tahapan perencanaan proyek.

Bobby mengungkapkan kebutuhan investasi untuk membangun jaringan rel yang terhubung dari ujung ke ujung Pulau Sumatra diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar AS.

“Kalau totalnya itu [pembangunan jaringan rel] Sumatra, itu bisa sekitar 20 miliar dolar AS sampai dengan 25 miliar dolar AS atau sekitar Rp350 triliun dari ujung ke ujung,” ujar Bobby Rasyidin, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Pembiayaan proyek dipandang akan melibatkan peran sektor swasta dan mitra internasional untuk mengurangi tekanan fiskal dan mempercepat realisasi infrastruktur.

Pembahasan teknis dan model pembiayaan diperkirakan akan terus berlanjut dalam forum perencanaan pemerintahan dan kerja sama dengan calon mitra asing.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button