J.P. Morgan: Risiko Surplus Tekan Pasar Minyak hingga 2027

Jakarta, Maret.id — Riset J.P. Morgan yang dirilis pada Rabu 24 Juni 2026 waktu setempat mencatat arus pasokan minyak dunia saat ini mencapai sekitar 8,6 juta barel per hari.
Sepanjang Juni, rata-rata aliran pasokan berada di level 6,3 juta barel per hari, meningkat signifikan dibandingkan April dan Mei.
“Penurunan persediaan minyak komersial di negara-negara anggota OECD belum sesuai ekspektasi,” kata J.P. Morgan, bank investasi internasional.
Banyak pelaku usaha memilih mempertahankan stok yang dimiliki, sementara operasional kilang lebih banyak ditopang oleh cadangan minyak strategis pemerintah atau Strategic Petroleum Reserve (SPR).
Kondisi ini membuat penyusutan stok komersial berlangsung lebih lambat dari perkiraan.
“Kami memperkirakan persediaan minyak OECD akan berkurang sekitar 50 juta barel tambahan pada periode April hingga Juli 2027,” kata J.P. Morgan, bank investasi internasional.
Namun, penurunan tersebut dinilai belum cukup untuk menghilangkan risiko kelebihan pasokan.
“Pasar minyak berpotensi mengalami surplus yang cukup besar mulai kuartal IV 2026 hingga semester I 2027,” kata J.P. Morgan, bank investasi internasional.
“Karena itu, setelah produksi mencapai puncaknya pada akhir 2026, para produsen diperkirakan perlu memangkas output pada awal 2027 guna mencegah kelebihan pasokan dan menjaga stabilitas harga,” kata J.P. Morgan, bank investasi internasional.
“Ancaman surplus pasokan, di tengah pertumbuhan permintaan yang melambat, menjadi faktor utama yang mendasari pandangan J.P. Morgan yang lebih konservatif terhadap prospek harga minyak Brent dalam jangka menengah,” kata J.P. Morgan, bank investasi internasional.
Kondisi ini mendorong pelaku pasar dan pembuat kebijakan di Indonesia untuk meningkatkan pengawasan terhadap persediaan dan harga bahan bakar.
Perkembangan global tersebut juga menegaskan pentingnya koordinasi antara produsen dan penggunaan cadangan strategis guna meredam fluktuasi pasar internasional.





