Ekonomi

Subsidi Bocor ke Orang Kaya, Pertumbuhan 5,61 Persen Ilusif

Jakarta, Maret.id — Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eisha M. Rachbini, mengatakan lonjakan pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini nyatanya hanya terdongkrak oleh faktor musiman.

“Di tengah tekanan ini, pertumbuhan ekonomi Triwulan I-2026 mencapai 5,61 persen namun angka itu menyimpan kerapuhan,” ujar Eisha M. Rachbini, Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef).

Penopang utama pertumbuhan tersebut menurut Eisha adalah momentum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah yang menggenjot konsumsi, efek basis rendah (low base effect), serta melonjaknya realisasi belanja pemerintah di awal tahun.

“Dan pertumbuhan Indeks Penjualan Riil yang turun, bahkan negatif,” ujar Eisha M. Rachbini, Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef).

Eisha menyoroti bahwa daya beli masyarakat mulai menunjukkan tren pelemahan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang merosot ke level 120,9 pada Mei 2026 dari sebelumnya 123,0 pada April, sebuah angka terendah sejak September 2025.

Ia juga mencatat volatilitas harga pangan global serta disparitas harga antardaerah yang mencapai hampir empat kali lipat sebagai faktor yang menggerus kantong rumah tangga.

“Realisasi subsidi dan kompensasi energi telah mencapai Rp203,7 triliun atau 45,6 persen pagu APBN hanya dalam lima bulan,” ujar Eisha M. Rachbini, Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef).

Kondisi fiskal menjadi semakin menyempit karena beban subsidi yang membengkak, sehingga ruang anggaran untuk belanja prioritas kian terbatas.

Ironisnya, skema subsidi berbasis komoditas saat ini dinilai tidak tepat sasaran karena banyak dinikmati oleh kelompok masyarakat berpenghasilan mampu.

“Sehingga terdapat inclusion error,” ujar Eisha M. Rachbini, Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef).

Pernyataan tersebut disampaikan pada Jumat, 26 Juni 2026.

Menurut Eisha, perbaikan penargetan subsidi dan kajian menyeluruh terhadap kebijakan fiskal menjadi penting untuk melindungi kelompok rentan tanpa mengorbankan ruang fiskal untuk pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button