Inflasi Melejit, Warga AS Tertekan oleh Lonjakan Harga Kebutuhan Pokok

Boston, Maret.id — Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat naik 3,8 persen secara tahunan pada April 2026, meningkat dari 3,3 persen pada Maret, menunjukkan tekanan inflasi yang meningkat pada rumah tangga AS seiring berlanjutnya konflik di Timur Tengah.
Kenaikan harga energi dan dampaknya pada inflasi
Lonjakan inflasi sebagian besar dipicu oleh kenaikan harga minyak setelah Presiden AS menolak proposal Iran untuk mengakhiri perang, sementara Iran membatasi distribusi energi melalui Selat Hormuz — jalur penting yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Harga minyak mentah Brent, yang sebelum konflik berada di kisaran 70 Dolar AS per barel, melonjak menjadi 118 Dolar AS per barel pada akhir April dan bertahan di atas 107 Dolar AS per barel pada Selasa pagi berikutnya.
Kenaikan harga minyak berdampak langsung pada biaya bahan bakar di dalam negeri. Harga bensin di AS tercatat naik sekitar 50 persen sejak perang dimulai pada 28 Februari dan melonjak 28,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Data menunjukkan rata-rata harga bensin nasional mencapai 4,50 Dolar AS per galon, naik dari sekitar 3,14 Dolar AS per galon pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan biaya bahan bakar juga mendorong tarif penerbangan naik 20,7 persen dalam setahun terakhir akibat mahalnya bahan bakar jet.
Tekanan pada rumah tangga, pangan, dan prospek kebijakan moneter
Para ekonom memperingatkan dampak luas yang dirasakan konsumen. Kepala ekonom Moody’s, Mark Zandi, menyatakan rumah tangga Amerika akan terus menghadapi tekanan dalam waktu dekat. Analis Bankrate Stephen Kates menilai konsumen kini menghadapi tekanan ganda: lonjakan harga bensin sekaligus kenaikan berbagai kebutuhan pokok lainnya.
Kenaikan harga energi juga memperburuk biaya distribusi dan produksi pangan. Profesor ekonomi Boston College Brian Bethune menggambarkan Selat Hormuz sebagai jalur vital bagi ekonomi global dan memperingatkan dampak ketika arus energi terganggu. Data CPI memperlihatkan harga makanan naik 3,2 persen dalam setahun terakhir, sementara harga daging sapi melonjak hingga 14,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Bethune menyoroti kenaikan harga solar yang meningkatkan biaya distribusi makanan serta gangguan pasokan pupuk yang melewati Selat Hormuz, sehingga mendorong biaya produksi pertanian.
Kondisi inflasi yang kembali mendekati 4 persen memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve, tidak akan segera menurunkan suku bunga. Menurut Kates, tren inflasi tidak akan langsung berbalik meskipun ketegangan geopolitik mereda, sehingga peluang penurunan suku bunga tahun ini sangat kecil.





