Rupiah Menyentuh Rp17.541 per Dolar AS, Purbaya Siapkan Intervensi di Pasar Obligasi

Jakarta, Maret.id — Rupiah melemah 13 poin atau 0,07 persen ke level Rp17.541 per dolar AS, sementara indeks dolar AS menguat tipis 0,01 persen ke 98,30. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan pasar keuangan setelah pengumuman hasil evaluasi indeks global pada Mei 2026 yang mendorong rebalancing portofolio investor asing.
Penyebab Pelemahan Rupiah
Rebalancing indeks global yang diumumkan akhir-akhir ini kerap memicu arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, karena manajer investasi menyesuaikan komposisi portofolio mereka. Sejak awal 2026, rupiah tercatat melemah sekitar 5,09 persen terhadap dolar AS, mencerminkan tekanan jual oleh pelaku pasar terkait penyesuaian tersebut.
Respons Pemerintah dan Skema Bond Stabilization Fund
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah akan bekerja sama dengan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Ia mengonfirmasi rencana intervensi di pasar obligasi melalui skema Bond Stabilization Fund (BSF) dengan tujuan menahan kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan meredam potensi capital outflow.
“Kita coba membantu nilai tukar, kita membantu Bank Indonesia sedikit-sedikit kalau bisa,” kata Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (12/5/2026). Ia menjelaskan pemerintah akan membeli kembali obligasi pemerintah yang dilepas investor asing agar yield tidak melonjak sehingga mengurangi risiko kerugian (capital loss) bagi pemegang obligasi asing. “Besok kita akan mulai membantu dengan masuk ke bond market, seperti Bond Stabilization Fund. Kita masih banyak uang nganggur, kita intervensi bond market supaya yield-nya enggak naik terlalu tinggi,” ujarnya.
Purbaya menambahkan bahwa meski pemerintah menyiapkan dana untuk BSF, tidak semua dana akan diaktifkan pada tahap awal intervensi. Langkah ini bertujuan menahan arus keluar modal dan, jika kondisi membaik, mendorong masuknya kembali investor asing sehingga mendukung penguatan rupiah.
Dampak terhadap APBN dan Prospek Keuangan
Pemerintah menilai kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap aman meski nilai tukar rupiah saat ini jauh melampaui asumsi dasar APBN 2025 yang dipatok di Rp16.500 per dolar AS. Pengendalian pasar obligasi dan koordinasi fiskal-moneter dinilai kunci untuk meredam volatilitas, menjaga stabilitas pasar keuangan, dan meminimalkan tekanan terhadap defisit serta komponen anggaran yang sensitif terhadap kurs.
Analisis lebih lanjut dari pelaku pasar akan mencermati efektivitas intervensi BSF terhadap penurunan imbal hasil SBN dan pergerakan arus modal asing dalam beberapa pekan mendatang.





