Bursa Eropa Cetak Rekor, Saham Teknologi Tertekan

Jakarta, Maret.id — Bursa Eropa mencatat penutupan tertinggi sepanjang sejarah setelah indeks STOXX 600 naik 1,41 poin atau 0,22 persen ke level 648,35.
Penguatan terjadi hampir di seluruh sektor, terutama saham kesehatan dan sektor-sektor defensif, sehingga mampu menutupi tekanan pada saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Bursa-bursa utama Eropa lainnya juga menguat dengan indeks DAX Jerman melonjak 2,16 persen, FTSE 100 Inggris naik 1,67 persen, dan CAC 40 Prancis menguat 1,65 persen.
Sentimen positif pasar turut didorong oleh data pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja pada Juni melambat lebih tajam dari perkiraan, sementara data payroll untuk dua bulan sebelumnya direvisi lebih rendah.
Kondisi tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja mulai mendingin dan memunculkan harapan bahwa bank sentral AS tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga kembali.
Secara sektoral, saham-saham kesehatan menjadi pendorong utama kenaikan dengan penguatan 3,3 persen.
Saham Bayer melonjak 8,9 persen setelah perusahaan mengumumkan restrukturisasi bisnis Roundup di AS melalui pembentukan unit baru bernama Ruveon.
Sektor barang konsumsi pribadi dan rumah tangga naik 2 persen, sektor makanan dan minuman menguat 2,2 persen, serta sektor kedirgantaraan dan pertahanan melonjak 3,1 persen.
Sebaliknya, sektor teknologi menjadi satu-satunya sektor yang ditutup di zona merah dengan penurunan 2,1 persen.
Di antara emiten teknologi, saham Soitec turun 4,2 persen sedangkan Aixtron anjlok sekitar 10 persen dan tercatat sebagai saham dengan kinerja terburuk di STOXX 600.
Pelemahan sektor teknologi mengikuti aksi jual saham-saham terkait AI di bursa Asia dan Wall Street pada perdagangan sebelumnya.
Di level emiten lain, saham perusahaan katering asal Prancis Sodexo melesat 7,4 persen setelah perseroan menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan organik sepanjang tahun berdasarkan kinerja kuartal ketiga yang melampaui ekspektasi pasar.
Pergerakan pasar ini mencerminkan pergeseran sementara dari saham teknologi menuju sektor defensif seiring respons investor terhadap data tenaga kerja AS dan perkembangan korporasi Eropa.





