Dolar AS Tertekan, Yen Menguat di Tengah Ketidakpastian

Jakarta, Maret.id — Pasar global terguncang setelah data tenaga kerja AS periode Juni menunjukkan penambahan nonfarm payrolls hanya 57.000 orang, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 110.000.
Hasil rilis itu seketika mengubah peta kebijakan moneter, sehingga probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada rapat September merosot tajam dari sekitar 67 persen menjadi 54 persen.
Indeks Dolar AS (DXY) merosot ke level 100,83 namun para analis mengingatkan agar tidak buru-buru menyimpulkan ekonomi AS sedang memasuki resesi.
Kelemahan penambahan tenaga kerja dinilai masih bersifat musiman, terutama pada sektor rekreasi dan perhotelan, sehingga angka agregat tampak melemah.
Sementara itu, magnet investasi pada sektor kecerdasan buatan (AI) diperkirakan tetap akan menopang arus modal ke AS dalam jangka menengah.
Pergerakan pasar valuta asing mencatat lonjakan signifikan pada yen, yang menguat 0,95 persen ke level 161,04 per Dolar AS, sehingga menarik perhatian pelaku pasar.
Penguatan tajam yen tersebut dipicu oleh spekulasi agresif bahwa otoritas Jepang telah mengubah strategi intervensi nilai tukar mereka.
Otoritas Jepang kini memilih menahan diri dari memberi sinyal terbuka atau menetapkan patokan level tertentu, langkah yang dinilai menciptakan kabut ketidakpastian dan menakuti spekulan.
Kombinasi data tenaga kerja yang lemah dan strategi intervensi yang samar dari Jepang mendorong investor menyesuaikan portofolio, khususnya eksposur mata uang dan aset berisiko.
Pelaku pasar akan mengawasi data inflasi AS serta pernyataan pejabat bank sentral dalam beberapa pekan mendatang sebagai indikator arah kebijakan moneter global.





