Ekonomi

Sentimen Global Membaik, Pasar Domestik Tetap Waspada Risiko

Jakarta, Maret.id — Sentimen positif global mendorong pemburuan aset berisiko di negara berkembang, namun tekanan ekonomi domestik membuat Indonesia harus tetap berhati-hati.

Inflasi Juni tercatat melonjak menjadi 3,34 persen secara tahunan dan neraca perdagangan Mei mengalami defisit tak terduga sebesar 1,61 miliar Dolar AS.

Kondisi ini memaksa Bank Indonesia untuk mempertahankan sikap kebijakan moneter yang defensif.

Sepekan terakhir, dinamika ekonomi global memberikan peta jalan beragam bagi para investor.

Pasar tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan tanda melambat dengan tingkat pengangguran turun tipis ke 4,2 persen namun penciptaan lapangan kerja nonfarm payrolls hanya mencapai 57.000, jauh dari ekspektasi pasar sebesar 110.000.

Dilema pasar tenaga kerja ini mendorong ekspektasi bahwa The Fed akan bersikap hati-hati dengan spekulasi satu kali lagi kenaikan suku bunga hingga akhir 2026.

Inflasi Zona Euro melandai ke 2,8 persen secara tahunan, menandakan kondisi harga yang lebih stabil.

PMI manufaktur China (NBS) kembali ke zona ekspansif pada level 50,3, sementara Jepang masih berjuang dengan pemulihan daya beli rumah tangga yang berjalan lambat.

Dinamika global tersebut mengocok ulang alokasi portofolio pasar sepanjang pekan lalu.

Di pasar domestik, sektor industri menguat 4,86 persen dan sektor teknologi naik 2,24 persen sebagai motor utama pergerakan IHSG.

Sebaliknya, sektor keuangan turun 1,35 persen dan sektor kesehatan anjlok 1,27 persen akibat aksi ambil untung dan kehati-hatian investor.

Di pasar komoditas dan alternatif, Bitcoin menguat 3,26 persen dan harga batu bara naik 3,09 persen, sementara gas alam menyusut 2,85 persen.

Penurunan harga minyak global menjadi katalis positif untuk menekan inflasi impor.

Namun inflasi domestik yang memanas dan defisit neraca perdagangan menutup peluang bagi Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.

“Strategi investasi terbaik adalah tetap selektif dan defensif,” kata PT Ashmore Asset Management Indonesia, Komentar Mingguan.

“Saham berkapitalisasi besar dengan likuiditas dan fundamental kuat wajib menjadi prioritas untuk mengamankan portofolio,” kata PT Ashmore Asset Management Indonesia, Komentar Mingguan.

“Untuk pekan depan, pasar akan memantau konsistensi pemulihan arus logistik di Selat Hormuz dan realisasi reformasi pasar dalam negeri,” kata PT Ashmore Asset Management Indonesia, Komentar Mingguan.

Dampak kombinasi sentimen global yang membaik dan kelemahan domestik akan menentukan arah aliran modal asing dan kebijakan moneter Indonesia dalam beberapa bulan mendatang.

Kondisi ini juga mencerminkan kerentanan pasar negara berkembang terhadap perubahan ekspektasi suku bunga global.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button