SMK Go Global Perkuat Ekspor SDM Vokasi ke Korea Selatan

Jakarta, Maret.id — Prof. Abdul Haris meneruskan pesan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, saat acara pelepasan 41 Pekerja Migran Indonesia (PMI) terampil sektor pengelasan ke Republik Korea pada Senin, 6 Juli 2026.
Acara berlangsung di Grand Caman Hotel, Jatibening, Bekasi, dan Abdul Haris hadir sebagai Wakil Ketua III Satuan Tugas Percepatan SMK Go Global yang mewakili Menko Muhaimin.
“Pembinaan dan pelatihan terhadap 41 PMI Terampil Sektor Pengelasan ini merupakan showcase keberhasilan kolaborasi pemerintah, lembaga pelatihan swasta, dan dunia industri dalam menciptakan jalur yang terintegrasi dari pelatihan menuju penempatan kerja internasional bagi tenaga kerja Indonesia…” ujar Prof. Abdul Haris, Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu dan Wakil Ketua III Satuan Tugas Percepatan SMK Go Global.
“Ke-41 PMI yang dilepas merupakan hasil pembinaan dan pelatihan melalui kerja sama antara Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Serang, LPKS Shankara, dan PT Della Fadhil Anugrah selaku Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI). Mereka akan ditempatkan di HD Hyundai Samho Co., Ltd., Republik Korea…” ujar Prof. Abdul Haris, Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu dan Wakil Ketua III Satuan Tugas Percepatan SMK Go Global.
Urgensi penempatan tenaga kerja terampil ini ditekankan oleh pemerintah mengingat kondisi ketenagakerjaan nasional yang masih menantang secara struktural.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pada Februari 2026 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional sebesar 4,68 persen atau sekitar 7,24 juta orang dari total angkatan kerja 154,91 juta orang.
Tingkat pengangguran lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tercatat paling tinggi di antara jenjang pendidikan lain, yaitu 7,74 persen, sementara lulusan SMA 6,23 persen dan perguruan tinggi 6,13 persen.
Kondisi tersebut mencerminkan adanya kesenjangan keterampilan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan riil industri dalam negeri, sehingga membuka argumen untuk mengoptimalkan jalur penempatan kerja ke luar negeri sebagai alternatif penyerapan tenaga kerja terampil.
“Di sisi lain, potensi pasar kerja global masih sangat besar namun belum termanfaatkan secara optimal…” ujar Prof. Abdul Haris, Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu dan Wakil Ketua III Satuan Tugas Percepatan SMK Go Global.
Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) mencatat per April 2026 terdapat lebih dari 260.000 lowongan kerja luar negeri yang teridentifikasi, namun baru sekitar 64.000 posisi atau sekitar 20 persen yang terisi oleh pekerja Indonesia.
Permintaan tenaga kerja terampil untuk sektor pengelasan (welder) dan perawatan lansia (caregiver) tercatat tinggi di berbagai negara maju seiring keterbatasan tenaga kerja lokal di negara-negara tersebut.
Program SMK Go Global dijalankan atas arahan Presiden Prabowo Subianto melalui sinergi Kemenko PM dengan KP2MI/BP2MI dan pemangku kepentingan terkait sebagai langkah cepat (quick win) untuk memperluas akses pasar kerja internasional bagi lulusan vokasi.
Program menargetkan penempatan 500.000 tenaga kerja terampil ke luar negeri, terdiri atas 300.000 lulusan SMK dan 200.000 peserta umum, dengan target penempatan sepanjang 2026 sebesar 40.000 PMI.
Sebelumnya, pada akhir 2025 dilaksanakan uji coba penempatan 200 pekerja terampil ke Jepang, dan pelepasan 41 PMI ke Korea Selatan dinilai sebagai keberhasilan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah pusat, lembaga pelatihan vokasi, dan dunia usaha.
Pemerintah mendorong agar model sinergi serupa terus diperluas dan direplikasi untuk memperkuat perlindungan PMI sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan peluang pasar kerja internasional demi peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.





