Pengusaha Batu Bara Kembangkan Bisnis Terukur Saat Harga Stabil

Jakarta, Maret.id — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk batu bara 6.322 GAR sebesar 106,57 Dolar AS (Rp1,92 juta) per ton pada periode pertama Mei 2026 melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 179.K/MB.01/MEM.B/2026.
Merespons penetapan HBA tersebut, Komisaris PT Arkara Prathama Energi, Ivan Victor Salim, mengatakan stabilitas harga memberikan kepastian bagi perusahaan dalam menyusun rencana kerja.
“Stabilitas harga memberi ruang bagi perusahaan untuk menyusun rencana kerja lebih rapi. Namun, ruang itu hanya berguna jika biaya produksi, jadwal pengiriman, dan ketersediaan alat bisa dijaga,” kata Ivan Victor Salim, Komisaris PT Arkara Prathama Energi.
Ia menilai harga acuan yang relatif stabil tidak membuat operasional pertambangan menjadi lebih ringan.
Perusahaan tetap dituntut menjaga efisiensi di lapangan, mulai dari perawatan jalan tambang, kesiapan alat berat, hingga kelancaran proses pengangkutan.
Oleh karena itu, perusahaan tambang semakin membutuhkan mitra jasa pertambangan yang mampu bekerja secara presisi dan efisien, bukan sekadar mengejar volume pekerjaan.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan produksi batubara nasional akan diturunkan guna menjaga harga sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan cadangan sumber daya.
Realisasi produksi batu bara nasional pada 2025 tercatat mencapai sekitar 790 juta ton dan ditargetkan turun menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026.
Sementara itu, data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu bara mencatat produksi batubara tahun lalu mencapai 817,48 juta ton, dengan pemenuhan kebutuhan pasar domestik sebesar 246,88 juta ton.
Dalam kondisi tersebut, Ivan mendorong perusahaan tambang untuk lebih selektif dalam menentukan prioritas operasional.
“Dalam kondisi harga yang memberi kepastian awal, perusahaan tambang biasanya menata ulang prioritas operasi. Mereka akan memilih pekerjaan yang langsung menurunkan biaya, mempercepat pengiriman, atau menjaga keselamatan,” kata Ivan Victor Salim, Komisaris PT Arkara Prathama Energi.
Ia menambahkan peluang bagi perusahaan jasa pertambangan kini semakin terbuka pada pekerjaan yang mampu meningkatkan efisiensi operasional, seperti mempercepat waktu kerja alat berat, memperbaiki jalan angkut, meningkatkan produktivitas hauling, hingga menekan risiko kecelakaan kerja.
“Di tengah target produksi yang turun, keunggulan teknis dan efisiensi operasional akan menjadi faktor utama dalam menjaga daya saing industri pertambangan batu bara,” kata Ivan Victor Salim, Komisaris PT Arkara Prathama Energi.





