Ekonomi

Minyak Mentah Naik, Daya Tarik CPO untuk Biodiesel Menguat

Jakarta, Maret.id — Melesatnya harga minyak mentah mendorong daya tarik minyak kelapa sawit (CPO) sebagai bahan baku biodiesel yang lebih ekonomis dan kompetitif.

Sentimen positif tersebut mengangkat harga kontrak berjangka CPO Malaysia untuk sesi perdagangan kedua berturut-turut pada Selasa, 7 Juli 2026.

Pada awal perdagangan di Bursa Malaysia Derivatives, kontrak acuan CPO untuk pengiriman September melonjak 26 Ringgit atau 0,57 persen menjadi 4.576 Ringgit per ton.

Kenaikan harga minyak mentah sempat tertahan oleh pergeseran fokus pasar dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah ke proyeksi pasokan-permintaan global, namun posisi harga minyak yang tetap tinggi tetap menjadi katalis kuat.

Saat harga fosil meningkat, pelaku industri cenderung beralih ke minyak nabati sebagai alternatif energi terbarukan, sehingga memperkuat permintaan terhadap CPO.

Di pasar komoditas lain, kontrak minyak sawit di bursa Dalian menguat 1,46 persen dan minyak kedelai naik 1,29 persen, sedangkan di CBOT (Chicago Board of Trade) harga minyak kedelai tercatat naik 0,3 persen.

CPO memiliki korelasi erat dengan minyak nabati lain; penguatan harga minyak kedelai dan pasar Dalian sering mendorong pergeseran permintaan global ke CPO yang relatif lebih atraktif.

Sinyal hijau dari sektor biofuel tersebut langsung direspons agresif oleh pelaku industri domestik.

Dari dalam negeri, PT Agrinas Palma Nusantara mengumumkan rencana strategis pembangunan pabrik biodiesel dan bioetanol sebagai bagian dari upaya menangkap peluang agenda energi terbarukan pemerintah.

Perusahaan juga menyatakan akan memperluas portofolio komoditasnya ke sektor kedelai dan singkong untuk mendukung produksi biofuel.

Penguatan Ringgit Malaysia sebesar 0,12 persen terhadap Dolar AS sedikit menahan laju kenaikan CPO karena mata uang yang lebih kuat membuat harga CPO relatif lebih mahal bagi importir luar negeri.

Pergerakan harga ini dipantau ketat oleh eksportir dan produsen biodiesel, mengingat implikasinya terhadap biaya produksi, rantai pasok bahan baku, dan kebijakan energi terbarukan nasional.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button