Bursa Eropa Lesu, STOXX 600 Ambles 1,8 Persen Tekan Sentimen

Jakarta, Maret.id — Kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi mendorong lonjakan harga minyak dan memicu kekhawatiran inflasi di Zona Euro.
Indeks Euro STOXX 50 anjlok 2,0 persen ke level 6.190, sementara STOXX Europe 600 turun 1,8 persen menjadi 634.
Sentimen pasar memburuk setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan membuka peluang serangan militer lanjutan, yang membuat investor beralih ke aset yang lebih aman.
Tekanan menyebar hampir ke seluruh sektor, dengan dampak paling besar terasa di perbankan, teknologi, otomotif, dan barang konsumsi.
Saham Santander dan Deutsche Bank masing-masing merosot lebih dari 5 persen, sementara SAP turun 4 persen di tengah berlanjutnya aksi jual saham-saham bertema kecerdasan buatan (AI).
UniCredit juga terkoreksi 2,9 persen setelah meningkatkan kepemilikannya di Commerzbank.
Di Jerman, indeks DAX 40 merosot 2,2 persen menjadi 24.897,5, mencatat penurunan harian terbesar sejak 19 Maret.
Saham Vonovia memimpin pelemahan dengan turun 5,7 persen, diikuti Deutsche Bank yang kehilangan 5 persen, Heidelberg Materials turun 4,6 persen, Rheinmetall merosot 4,5 persen, Mercedes-Benz melemah 3,9 persen, dan Lufthansa anjlok 6,5 persen akibat kenaikan harga minyak dan penurunan rekomendasi dari Citigroup.
Indeks FTSE 100 Inggris melemah lebih dari 1,5 persen dengan saham-saham pertambangan menjadi pemberat utama; Endeavour Mining turun 7,3 persen, Antofagasta 6,4 persen, Anglo American 5,6 persen, dan Rio Tinto 5 persen.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak menopang saham energi, dengan BP menguat 2,3 persen dan Shell naik 3,1 persen.
Indeks CAC 40 Prancis ditutup turun 2,2 persen ke level 8.253, dengan pasar dibayangi oleh ketegangan geopolitik dan meningkatnya ketidakpastian politik domestik.
Saham sektor barang mewah seperti LVMH, Hermes, Kering, dan L’Oréal terkoreksi tajam, diikuti pelemahan saham industri dan perbankan.
Berlawanan dengan mayoritas emiten, TotalEnergies menguat 2,1 persen karena mendapat manfaat dari lonjakan harga minyak mentah.
Fluktuasi ini menunjukkan kerentanan pasar Eropa terhadap risiko geopolitik dan tekanan harga energi yang dapat memperburuk prospek inflasi.





