Ekonomi

Emerging Market RI Terancam, BEI Komunikasi dengan S&P

Jakarta, Maret.id — S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) resmi memasukkan pasar modal Indonesia ke dalam daftar pantau (watchlist) untuk evaluasi tahun 2027, yang berpotensi menurunkan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.

S&P DJI menyoroti isu transparansi pasar sebagai perhatian utama dalam penempatan ini, sebuah masalah yang sebelumnya juga disinggung oleh MSCI.

Jika persoalan transparansi tersebut tidak kunjung terselesaikan, status pasar modal Indonesia terancam diturunkan pada tinjauan mendatang.

Menanggapi situasi itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) segera menghubungi S&P DJI untuk membuka dialog konstruktif dan memaparkan langkah-langkah reformasi yang sedang dilaksanakan di pasar domestik.

“Sejauh ini, tadi pagi saya cek, kami masih menunggu jawaban dari mereka. Kami sudah kontak, cuma masih menunggu tanggapan dari S&P,” ujar Irvan Susandy, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI.

Pernyataan tersebut disampaikan di Gedung BEI, Rabu 8 Juli 2026.

Irvan menegaskan bahwa komunikasi dengan lembaga indeks internasional seperti S&P DJI, MSCI, dan FTSE Russell merupakan agenda rutin BEI untuk memastikan kebijakan reformasi pasar modal Indonesia dipahami secara komprehensif oleh pelaku pasar global.

Untuk meningkatkan integritas, transparansi, dan likuiditas pasar, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Self-Regulatory Organization (SRO) mempercepat sejumlah agenda strategis, termasuk upaya peningkatan free float emiten.

BEI menargetkan porsi free float minimum emiten mencapai 12,5 persen pada tahun depan dan akan ditingkatkan secara bertahap hingga 15 persen pada 2029.

BEI juga memperkuat pengawasan perdagangan dengan memperketat fungsi surveillance dan implementasi HSC List untuk mendeteksi serta mengantisipasi saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan yang terlalu tinggi.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan komitmen pihaknya untuk mencermati evaluasi ini dan terus mendorong terciptanya pasar modal yang wajar, teratur, dan efisien.

Isu watchlist ini langsung direspons negatif oleh pelaku pasar; pada penutupan perdagangan sesi I, Rabu siang kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 1,11 persen atau turun 66,35 poin ke level 5.920,15.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button