Harga Emas Menguat oleh Bargain Hunting, Sentimen Geopolitik

Jakarta, Maret.id — Harga emas naik didorong aksi perburuan harga murah (bargain hunting) setelah komoditas ini sempat menembus level terendah dalam sepekan terakhir, sambil investor terus memantau eskalasi konflik di Timur Tengah dan proyeksi arah suku bunga The Fed.
Emas spot melompat 1,3 persen ke level 4.130,58 Dolar AS per ons.
Sehari sebelumnya, harga emas sempat merosot ke titik terendah sejak awal Juli.
Emas berjangka AS untuk kontrak pengiriman Agustus ditutup menguat 1,4 persen di posisi 4.140,80 Dolar AS per ons.
Perak spot tercatat menguat 3,4 persen menjadi 60,25 Dolar AS per ons.
Risiko geopolitik kembali mencuat setelah militer Iran melancarkan serangan balasan terhadap infrastruktur militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk.
Ketegangan ini mengancam perjanjian gencatan senjata yang baru berjalan tiga pekan dan memicu kekhawatiran karena konflik berisiko menaikkan harga energi yang memicu inflasi.
Meskipun emas dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat menurunkan daya tariknya di mata investor.
Berdasarkan FedWatch Tool dari CME Group, pelaku pasar saat ini melihat peluang sebesar 62 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang.
Sikap hawkish tersebut sejalan dengan risalah rapat Juni yang menunjukkan kekhawatiran pejabat bank sentral terhadap inflasi yang membandel.
Fokus pelaku pasar pekan depan tertuju pada rilis data inflasi resmi Amerika Serikat dan kesaksian pejabat The Fed di hadapan Kongres.
Hasil kedua agenda ini dinilai krusial untuk menentukan arah kebijakan moneter dan sentimen pasar komoditas global.
Pergerakan harga logam mulia diperkirakan akan mempengaruhi strategi investasi, kebijakan lindung nilai korporasi, dan dinamika pasar energi global.





