Ekonomi

Harapan Negosiasi AS

Jakarta, Maret.id — Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, turun 2,2 persen ke level 76,30 Dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah sekitar 2 persen dan ditutup di 72,08 Dolar AS per barel.

Sebelumnya harga minyak sempat melonjak pada awal perdagangan menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Militer AS dilaporkan melancarkan serangan terhadap sekitar 90 target di Iran sebagai balasan atas serangan Iran terhadap kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.

Iran kemudian merespons dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah aset militer AS di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Yordania.

Namun arah pasar berbalik setelah beredar laporan bahwa Qatar dan Pakistan tengah memediasi pembicaraan antara Washington dan Teheran.

Prospek dimulainya kembali negosiasi membuat kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi mulai mereda.

Sehari sebelumnya harga minyak justru mencatat lonjakan tajam dengan WTI menguat 4,4 persen, menjadi kenaikan harian terbesar sejak 1 Juni, sedangkan Brent melonjak 5,4 persen, tertinggi sejak 4 Mei.

Reli tersebut dipicu pernyataan mantan Presiden AS Donald Trump yang menyebut gencatan senjata dengan Iran telah berakhir serta mengancam akan kembali memberlakukan blokade angkatan laut AS.

Pergerakan harga minyak ini mencerminkan sensitivitas pasar energi terhadap eskalasi militer di kawasan dan sinyal diplomasi yang dapat mengurangi risiko pasokan.

Investor kini memantau perkembangan diplomasi antara Washington dan Teheran serta potensi gangguan rute pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting bagi pengiriman minyak global.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button