Ekonomi

GREAT Institute: Keputusan S&P Perkuat Kepercayaan Investor

Jakarta, Maret.id — S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level investment grade di tengah tekanan fiskal dan ketidakpastian ekonomi global.

S&P menilai tekanan terhadap posisi fiskal dan eksternal pada 2026 bersifat sementara.

Perbaikan diperkirakan didorong oleh pemulihan penerimaan negara, penguatan harga komoditas, penyesuaian belanja, serta kebijakan yang lebih stabil dan dapat diprediksi.

Komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah 3 persen PDB dinilai menjadi jangkar kredibilitas fiskal Indonesia.

S&P mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,6 persen (yoy) pada kuartal I-2026.

Perusahaan pemeringkat itu juga memproyeksikan pertumbuhan sebesar 5,1 persen sepanjang tahun 2026.

Prospek pertumbuhan tersebut, bersama rasio utang pemerintah yang relatif rendah, menjadi penopang utama peringkat Indonesia.

Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Trisha Devita Indraswari, menilai afirmasi peringkat tersebut menjadi sinyal positif bagi kepercayaan investor.

“Keputusan S&P menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih dinilai memiliki daya tahan yang memadai,” ujar Trisha Devita Indraswari, Peneliti Ekonomi GREAT Institute.

“Dalam perspektif ekonomi, peringkat kredit berfungsi sebagai sinyal mengenai tingkat risiko suatu negara,” ujar Trisha Devita Indraswari, Peneliti Ekonomi GREAT Institute.

“Status investment grade membantu mengurangi persepsi risiko, menjaga basis investor, dan mencegah kenaikan biaya pembiayaan pemerintah maupun korporasi,” ujar Trisha Devita Indraswari, Peneliti Ekonomi GREAT Institute.

Menurut GREAT Institute, keputusan S&P berpotensi menjaga sentimen pasar, menopang nilai tukar rupiah, mempertahankan daya tarik Surat Berharga Negara (SBN), serta menjaga premi risiko Indonesia tetap terkendali.

“Namun, dampak tersebut tetap bergantung pada kondisi global dan konsistensi kebijakan pemerintah,” jelas Trisha Devita Indraswari, Peneliti Ekonomi GREAT Institute.

S&P memberi catatan bahwa peringkat Indonesia dapat tertekan apabila beban bunga pemerintah terus meningkat atau utang pemerintah bertambah lebih cepat dari pertumbuhan ekonomi.

Perbaikan sektor eksternal, penguatan penerimaan negara, serta reformasi struktural termasuk perpajakan, pendalaman sektor keuangan, dan kepastian regulasi menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan status investment grade.

“Rating Indonesia ke depan tidak cukup hanya ditopang oleh rasio utang yang relatif terkendali,” kata Trisha Devita Indraswari, Peneliti Ekonomi GREAT Institute.

“Pemerintah juga perlu meningkatkan rasio penerimaan, menjaga kualitas institusi, meningkatkan kredibilitas kebijakan ekonomi, serta memastikan perubahan regulasi tidak meningkatkan ketidakpastian bagi dunia usaha,” kata Trisha Devita Indraswari, Peneliti Ekonomi GREAT Institute.

“Langkah ini penting agar berbagai catatan lembaga pemeringkat mengenai kelemahan struktural tersebut tidak terus berulang pada evaluasi tahunan mendatang,” kata Trisha Devita Indraswari, Peneliti Ekonomi GREAT Institute.

GREAT Institute menambahkan keputusan S&P perlu dilihat secara proporsional mengingat Moody’s dan Fitch sebelumnya mempertahankan peringkat Indonesia tetapi menurunkan outlook menjadi negatif.

“Afirmasi S&P memberikan modal untuk memperkuat kepercayaan investor terhadap Indonesia,” ujar Trisha Devita Indraswari, Peneliti Ekonomi GREAT Institute.

“Apabila diikuti disiplin fiskal, belanja yang produktif, dan kebijakan yang konsisten, keputusan ini dapat membantu menurunkan premi risiko, memperkuat investasi, serta mengurangi biaya pembiayaan dalam jangka panjang,” ujar Trisha Devita Indraswari, Peneliti Ekonomi GREAT Institute.

“Jika S&P sudah mempertahankan rating Indonesia, maka momentum ini juga bisa dipakai oleh publik, pelaku usaha dan masyarakat luas untuk tetap optimis dalam melihat perekonomian Indonesia ke depan,” ujar Trisha Devita Indraswari, Peneliti Ekonomi GREAT Institute.

“Karena itu, momentum positif ini perlu diterjemahkan menjadi transformasi ekonomi yang nyata,” ujar Trisha Devita Indraswari, Peneliti Ekonomi GREAT Institute.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button