Ekonomi

MoU Rehabilitasi Pipa Chevron Dorong Pasokan Irak dan Suriah

Jakarta, Maret.id — Di tengah terganggunya pengiriman minyak dunia akibat memanasnya konflik AS-Israel dengan Iran di kawasan Selat Hormuz, Irak dan Suriah sepakat menghidupkan kembali jalur pipa minyak mentah yang telah mati sejak 2003.

Proyek ini diharapkan menjadi alternatif penting bagi ekspor minyak dari Timur Tengah menuju Laut Mediterania.

Kesepakatan tersebut ditandatangani di Washington, Amerika Serikat, pada Jumat 17 Juli 2026 dalam bentuk nota kesepahaman (MoU) antara Perusahaan Minyak Basra dari Irak dan Perusahaan Minyak Suriah.

Penandatanganan dilakukan dalam pertemuan Dewan Bisnis AS-Irak dan disaksikan Menteri Energi AS Chris Wright.

Menurut laporan Kantor Berita Irak (INA), perusahaan energi asal AS, Chevron, akan memimpin rehabilitasi jalur pipa yang menghubungkan Haditha di Irak dengan Baniyas di Suriah.

Jalur tersebut merupakan bagian dari jaringan pipa yang sebelumnya mengalirkan minyak dari wilayah kaya minyak Kirkuk ke pelabuhan Baniyas di pesisir Laut Mediterania.

Pemerintah AS menyambut baik kesepakatan tersebut.

“Amerika Serikat menyambut baik keterlibatan konsorsium internasional yang dipimpin AS untuk melaksanakan aspek teknis dan keuangan proyek ini,” ujar Departemen Luar Negeri AS, juru bicara.

“Pengumuman hari ini menandai tonggak penting bagi kawasan ini dan bagi hubungan Suriah-Irak,” ujar Departemen Luar Negeri AS, juru bicara.

Menurut pemerintah AS, jalur pipa yang direhabilitasi nantinya akan memiliki kapasitas awal mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah per hari.

Selain proyek pipa minyak tersebut, Irak juga disebut akan menandatangani sekitar 50 perjanjian dan nota kesepahaman dengan AS dengan nilai mencapai 60 miliar Dolar AS.

Jalur pipa Kirkuk-Baniyas sendiri tidak lagi beroperasi sejak mengalami kerusakan akibat invasi AS ke Irak pada 2003.

Upaya menghidupkan kembali jalur ini muncul ketika arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz menurun tajam akibat meningkatnya konflik di kawasan, sehingga banyak negara mulai mencari rute ekspor alternatif untuk menjaga pasokan energi global.

Rehabilitasi pipa lintas negara ini berpotensi menggeser peta logistik energi regional dan menambah opsi ekspor bagi produsen minyak Irak dan Suriah, namun implementasinya akan bergantung pada kondisi keamanan, investasi infrastruktur, dan persetujuan teknis lintas batas.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button