Emas Catat Kerugian Mingguan Terbesar, Logam Mulia Beragam

Jakarta, Maret.id — Harga logam mulia bergerak beragam pada akhir perdagangan Jumat 17 Juli 2026, dengan emas menguat namun mencatat penurunan mingguan terbesar dalam enam pekan terakhir di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya kekhawatiran inflasi global.
Harga emas spot naik 1 persen menjadi 4.011,29 Dolar AS per ons, sementara emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus ditutup menguat 0,7 persen di 4.018,80 Dolar AS per ons.
Meski demikian, harga emas terkoreksi sekitar 2,6 persen sepanjang pekan ini setelah sempat menyentuh level terendah sejak 30 Juni.
Kenaikan harga minyak akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong ekspektasi suku bunga global tetap tinggi.
Kondisi tersebut turut memperkuat dolar AS selama dua sesi berturut-turut sehingga membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Pergerakan logam mulia lainnya cenderung terbatas, dengan perak naik 1 persen menjadi 56,06 Dolar AS per ons dan platinum turun 1,4 persen menjadi 1.595,64 Dolar AS per ons.
“Penguatan dolar AS dan kenaikan ekspektasi inflasi menjadi faktor utama yang menekan harga emas dalam beberapa hari terakhir,” ujar Chris Gaffney, President World Markets EverBank.
“Meskipun peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan berikutnya sedikit menurun, lonjakan harga minyak berpotensi membuat bank sentral AS mempertahankan sikap hawkish terhadap kebijakan moneternya,” ujar Chris Gaffney, President World Markets EverBank.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 58 persen bagi Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga pada September mendatang.
“Porsi kepemilikan emas oleh investor swasta masih relatif rendah dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik dapat mendorong diversifikasi investasi ke logam mulia oleh bank sentral serta investor swasta,” ujar Goldman Sachs, bank investasi.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan permintaan terhadap logam mulia sebagai aset lindung nilai dan mempengaruhi dinamika pasar komoditas serta aliran modal global.
Investor diperkirakan akan terus memantau perkembangan konflik AS-Iran, pergerakan harga minyak, serta data inflasi dan kebijakan The Fed yang dapat menentukan arah harga emas dalam jangka dekat.





