Ekonomi

CPO Malaysia Naik, Terdorong Reli Minyak Mentah dan El Niño

Jakarta, Maret.id — Pasar minyak sawit mentah (CPO) berjangka Malaysia menguat pada perdagangan Senin seiring lonjakan harga minyak bumi dan kenaikan pasar minyak nabati di Dalian, serta kekhawatiran terhadap potensi penurunan produksi akibat ancaman fenomena cuaca El Niño.

Kontrak acuan CPO pengiriman Oktober di Bursa Malaysia Derivatives Exchange (BMD) terangkat 39 Ringgit atau naik 0,85 persen ke posisi 4.636 Ringgit (atau 1.134,33 Dolar AS) per metrik ton pada jeda siang, Senin 20 Juli 2026.

“Penguatan signifikan pada pembukaan perdagangan CPO Malaysia dipicu oleh reli harga energi serta lonjakan minyak kedelai di Chicago Board of Trade pada Jumat lalu, ditambah penguatan minyak nabati di China pada sesi Asia,” ujar Anilkumar Bagani, Kepala Riset Komoditas Sunvin Group.

“Bayang-bayang El Niño kuat yang kembali menyita perhatian pasar turut mendorong pergerakan harga ke zona hijau,” ujar Anilkumar Bagani, Kepala Riset Komoditas Sunvin Group.

Di pasar terkait, kontrak minyak kedelai teraktif di Bursa Dalian menguat 0,51 persen, sementara kontrak minyak sawitnya melesat 1,16 persen, dan harga minyak kedelai di CBOT merambat naik tipis 0,06 persen.

Arah pergerakan harga CPO umumnya berbanding lurus dengan minyak pesaingnya karena persaingan ketat dalam perebutan pangsa pasar minyak nabati global.

Dukungan signifikan juga datang dari sektor energi setelah harga minyak mentah Brent melambung sekitar 2 persen hingga melampaui level 90 Dolar AS per barel pada hari Senin akibat memanasnya ketegangan AS-Iran di Timur Tengah yang mengganggu jalur distribusi di Selat Hormuz.

Kenaikan harga minyak bumi ini meningkatkan daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel yang lebih ekonomis.

Departemen Meteorologi Malaysia memproyeksikan rekor suhu tertinggi di negaranya pada 2027 akibat penguatan El Niño.

Pusat Prediksi Iklim Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa intensitas El Niño terus meningkat selama sebulan terakhir dan diprediksi memuncak sepanjang 2026 hingga awal 2027 sehingga mengancam pasokan produksi sawit mendatang.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button