Rosyidah Purna Pekerja Migran Indonesia Bangun Bisnis Olahan Laut

Jakarta, Maret.id — Empat tahun bekerja sebagai pekerja migran di Malaysia menjadi bagian penting perjalanan hidup Rosyidah.
Setelah masa perantauan berakhir, ia memilih kembali ke Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Di kampung halamannya ia melihat potensi perikanan pesisir yang melimpah namun sebagian besar belum diolah menjadi produk bernilai jual tinggi.
Dengan keberanian, Rosyidah merintis usaha olahan hasil laut bermerk C’milzea untuk membuka kesempatan kerja bagi ibu-ibu nelayan di sekitarnya.
Keterangan tertulis disampaikan Senin 20 Juli 2026.
“Saya melihat sumber daya alam di sekitar sangat melimpah, tetapi belum memiliki nilai jual. Dari situ saya memberanikan diri mengolahnya menjadi produk sekaligus membuka peluang kerja untuk ibu-ibu nelayan di sekitar,” ujar Rosyidah, Pemilik C’milzea.
Perjalanan membangun usaha tidak selalu mulus karena tantangan terbesar adalah membangun kepercayaan diri sebagai pelaku usaha.
Ia harus mengubah pola pikir, bangkit dari keraguan, dan memahami cara memasarkan produk agar dikenal masyarakat.
Keinginan berkembang mendorongnya mengikuti Pelatihan Purna Pekerja Migran yang diselenggarakan oleh BRI.
Pelatihan tersebut menjadi ruang belajar untuk memperkuat kemampuan berwirausaha dan memperluas wawasan pengembangan usaha.
Melalui kegiatan itu, Rosyidah bertemu dan bertukar pengalaman dengan sesama pelaku usaha sehingga memperoleh perspektif baru.
Ilmu yang diperoleh kemudian diterapkan secara bertahap, termasuk mengembangkan olahan ikan menjadi produk bernilai tambah.
Selain pendampingan pelatihan, Rosyidah memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebagai tambahan modal.
“Alhamdulillah, dana KUR yang saya terima benar-benar saya gunakan untuk mengembangkan usaha, mulai dari membeli bahan baku hingga menambah stok produk,” ujar Rosyidah, Pemilik C’milzea.
Dampaknya terlihat pada penjualan C’milzea yang semula rata-rata sekitar 50 kemasan kini meningkat menjadi sekitar 70 hingga 100 kemasan.
Produk yang awalnya terbatas juga berkembang menjadi tiga variasi untuk memperluas pilihan konsumen.
Corporate Secretary BRI Dhanny menjelaskan bahwa BRI Peduli sebagai payung Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) menyelenggarakan program pemberdayaan bagi Purna Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Program ini dirancang untuk membekali purna pekerja dengan keterampilan dan pengetahuan guna membangun penguatan ekonomi melalui pengembangan usaha dan peningkatan peluang kerja dalam negeri.
Peserta didorong memulai atau mengembangkan usaha produktif sesuai potensi daerah serta menerima pendampingan bisnis intensif untuk mendukung pertumbuhan usaha yang lebih optimal, berdaya saing, dan berkelanjutan.
“Kisah Rosyidah menjadi bukti bahwa pelatihan yang diberikan BRI Peduli memberikan manfaat nyata bagi purna pekerja membangun dan mengembangakan usaha,” kata Dhanny, Corporate Secretary BRI.





